Esai Sastra ‘Milan Kundera, Satir Klasik dalam Prosa Cekoslowakia’
M. Rifdal Ais Annafis
Apa yang saya ingat dari Milan Kundera? Mungkin The Joke, dengan satire-satire atas totaliterianisme Komunis Soviet. Atau bisa jadi, betapa Kundera kurang beruntung. Setelah berkali-kali menjadi kandidat utama, Nobel Sastra itu, setidak-tidaknya, penghargaan prestisius itu perlu rapi terpajang di lemari kayunya. Bersisian dengan penghargaan Herder (2000) misalnya. Apa yang mesti kita ingat dari Milan Kundera? Pada 11 Juli 2023 yang gamang itu, ia mangkat. Menuju nirwana.
Saya bergumam, “yang gamang adalah waktu, kita abadi.” Kalimat ini, saya pelintir dari gubahan sajak monumental penyair kita, Sapardi Djoko Damono dengan judul sajak “Yang Fana adalah Waktu”. Bagi catatan sederhana saya tentang Komunis Soviet, betapa ketika patung Lenin ditumbangkan, sosialisme di Soviet tak betul-betul mati. Kendati kuncup lahirnya demokrasi sudah tampak mulai memberikan pengaruhnya.
The Joke bagi saya, respon konkrit prosais yang hendak membentur dan mempersoalkan gagasan yang dianut masyarakatnya. Mungkin, bagi Milan Kundera, totaliterianisme Komunis Soviet, jika tidak segera dicegat, akan diadaptasi Cekoslowakia. Saya bayangkan Kundera berbincang imajiner dengan Foucault, bahwa gagasan Komunis Soviet yang hendak diadaptasi Cekoslowakia, tak akan pernah menyelesaikan apapun. Hanya memberikan kerugian kolektif.
Komunis dalam beberapa bagian, adalah produk utopis. Justru ketika Ludvik Jhan dikeluarkan dari sekolah dan partai Komunis karena ketidaksopanannya, saya bayangkan Kundera menampakkan sisi paling baik sekaligus petaka pertama bagi Komunis itu sendiri. Ludvik, bagi saya, menunggu produk-produk utopis yang diperdagangkan komunis Soviet cepat tercapai. Meski begitu, The Joke tetap satire khas Milan Kundera ketika menentang paham yang tak disukainya.
Pergeseran dari peran tradisi rakyat dan agama di bawah komunis cekoslowakia adalah pembacaan paling dalam Kundera terhadap komunitas masyarakatnya. Setelah membaca saya sendiri tiba-tiba dihantui bayangan masa lalu betapa Komunis betul-betul menganut paham totaliterianisme. Misalnya, tragedi Madiun (1948) yang menyebabkan Kiai Husein wafat beserta ribuan warga dan santri. Peristiwa mengenaskan ini adalah upaya pergeseran peran tradisi rakyat dan agama ke paham yang digembor-gemborkan Komunis saat itu.


















