Puisi-Puisi Fathurrozi Nuril Furqon
Fathurrozi Nuril Furqon
Catatan Remang Kota
: untuk mereka yang menumbalkan diri demi keluarga
Paras senyum ibu adalah terang lekuk pinggul lampu neon yang merajam risau,
ketika taring-taring kehidupan kota menjadikan tubuhku pelabuhan bagi air mata,
peluk hangat dalam mata ibu yang tak berbenda,
dan aroma lezat sambal terasi dan tumis kangkungnya selalu berhasil,
meneguhkan sendi-sendi perjalananku.
Perjalananku adalah langkah panjang tanpa alas kaki,
di atas jalan-jalan penuh duri dan ranjau.
Sejak ayah menyisakan foto berbingkai pigura di dekat jendela,
peta perjalanan menjadi lebih curam dan menantang.
Tak ada pegangan,
di bawah sana jurang yang bakal menewaskan kitab suci dalam dada,
mengembuskan napas ajal.
Namun, memang telah jatuh diriku dalam tubir jahim.
Berbekal kasih tak terhimpun rahim awan,
juga fragmen tangis ibu,
kubiarkan kegelapan tak tersentuh komponen tata lampu kota,
menggerayangi jengkal pori.
Maka ibu, di sinilah aku berada,
dalam ruang remang yang meruapkan amis romansa.
Kubekukan air mata,
dan kubakar ribuan patung dewa dalam kepala.
Sebab, di dunia yang keracunan MSG, formalin, dan nikotin,
dengan apa lagi bisa kunyalakan sumbu kompor, jika bukan dengan luka?
Sumenep, 2024
Fluktuasi
Subuh terbangun dari matamu
serupa nyala lilin
yang telat dinyalakan seorang ibu
setelah padam listrik berkepanjangan
Alif yang rapuh
perlahan kembali cagak
bagai tulang keropos seorang penatua
yang menerima asupan zat besi
setelah meminum susu anlene
Al iimanu yaziidu wa yanquus
Memang segala yang terjatuh
sulit menemukan jalan lapang
atau sekadar batu panjatan
untuk meninggalkan jurang
yang membenamkannya ke kubangan hitam
Sebagian terus terkapar
dan enggan menggunakan otot dan sendinya
untuk sekadar merangkak menepi
lalu sebelum lahir pelbagai perkiraan
cemas yang maut segera menenggelamkannya
dalam carut catatan Atid
Sebagian lain cukup beruntung
menemukan sulur cahaya
hingga bebas dari liang angkara
di bawahnya
Jakarta, 2024
Bekas Gincu
Sebuah tisu dengan bekas gincu menyembul dari saku ayah.
Bekas itu mencetakkan sebuah bibir serupa buah apel merah selepas musim tuai,
atau emoticon love yang kerap bertebaran di beranda WA.
Ayah barangkali lupa,
atau tak sempat membayangkan skenario yang mungkin terjadi,
sehingga membiarkan tisu itu ada di sana.
Pikirannya, juga tubuhnya telah lama disamun gedung-gedung kantor,
desing mobil tancap gas, dan klakson-klakson bersahutan seperti nada sumbang sebuah partitur. Lebih dalam, barangkali ayah telah tersesat
di antara getar musik diskotik, dan bar-bar.
Mobil sedan di halaman dinyalakan tergesa oleh ibu.
Rambut di kepalanya menyala seperti gaun tarian api gadis persia.
Asap berlesatan, diiringi umpatan.
Tapi, pelan, manik-manik air bercucuran di ubun-ubunku.
Rupanya, ibu sedang mengeramasi bulu matanya
yang sudah lama kering tertimbun debu maskara.
Segera jalan kota seperti warna-warna yang hilang sekejap mata.
Di lampu merah sedan berhenti.
"Pegang erat hatimu nak, luka mengintai dari setiap belokan." Aku mengangguk.
Lalu, sesuatu tertangkap di bawah tiang lampu merah,
sosok ayah yang sedang berbedak,
dengan wig pirang sepanjang pinggang,
asyik bergincu di bawah sorot lapar seorang preman jalanan.
Aku menunjuk-nunjuk,
dan segera, hujan menggeraikan rambutnya di sekujur body mobil ini.
Sumenep, 2024
Mengapa Luka
Mengapa luka begitu rimbun dalam tubuh puisi?
seperti jamur
ia tumbuh subur
dalam lanskap semesta
sebuah puisi
Momen puitika
barangkali kuali besar
yang menanak peristiwa
jadi muasal
bagi rasa sakit
untuk berteriak nyaring;
Mungkin karena dunia sejak lama
ialah tugur bagi sebuah laga
"Siapa yang tak menambang hujan di mata adalah raja"
maka, jiwa yang luka-luka
menjadikan puisi sebagai ruang
tempat mereka bebas menyumpahi dunia
yang kusam dan masai
Mengapa luka begitu karib dengan puisi?
seperti kawan yang lama tak sua
puisi menjadi peluk hangat
hingga kesedihan, duka,
dan asosiasi luka lainnya
terasa seperti mimpi
dari planet lain
yang asing
Sumenep, 2024
Yang Bakal Datang
Waktu kian menebal di buku catatan
abjad semakin sesak memenuhi baris sebuah halaman
dan kemungkinan, terasa nyalanya, kadang pula tidak
Daun-daun yang terasa banyak di bawah kanopi sebuah pohon
ada kalanya menciptakan kegusaran bagi pucuk yang datang setelahnya
sebuah soal pilihan ganda pun datang menyapa
"Jika peta perjalanan telah demikian terang, maka apa yang akan terjadi pada kita?"
Jawabannya;
A. Jadi cerita yang ada sementara lalu hilang dalam ingatan, hingga fosil dalam lapis bumi yang kian berkerak
B. Melahirkan kalimat baru dalam bakal manuskrip sejarah, hingga sebuah monumen terbangun untuk menghimpun ingatan yang ingin menziarahi kita
Sumenep, 2024
Fathurrozi Nuril Furqon,
Alumnus TMI Al-Amien Prenduan 2021 dan mahasiswa UNIA Prenduan. Suka membaca dan menulis. Puisinya bisa ditemui di beberapa media, seperti Media Indonesia, BWCF, Sastramedia, Republika dan lainnya.

















