Puisi-Puisi Isnadi
Isnadi
Tuhan, sepertinya aku lupa menuliskan puisi di jam tanganku
jadwal dan agenda sudah menghabiskan halaman
dan tak menyisakan baris untukmu.
Di tiap detak detiknya,
kubentangkan benang layang layang melangitkan kepalaku,
seperti pembaca yang suka meletakkan ingatan
dan cakrawala di tiap lembar buku,
lalu tersisa lelah tidur dan waktu lalu
dan tangan tak sempat menuliskan huruf alif-Mu
Berkebun
Istriku mengajari tanganku cara bertanam,
tanah pasir air membawa tubuhku
pada tamsil tubuh pertama: tanah untuk menapak dan kembali,
jalan tanpa peta dengan rahasia detik jam yang berhenti tiba tiba
Aku seperti tumbuh dalam pot bersama pucuk pucuk tumbuhan
mengerjap ngerjap pada cahaya dan benih pengetahuan
nafas abadi
milik-Mu
Pulang
Sehabis hujan
sehabis resap
tanah basah
Kini kau kembali
membuka pintu
Pulang
pada embun dipucuk daun
pada bawang merah mengembun
Sehabis mengurai putih helai rambut
sehabis kau temu waktu luput
sehabis cermin memantulkan keriput
sehabis terucap umpat damput
usia berlumut
Kau pun pulang
pada maut
memeluk bawang merah
menimang embun
menumbuhkan rambut
berterima pada yang luput
Sudahkah tangan menggenggam alamat?


















