Sejak hari pertama ambruknya pesantren, Selasa pekan lalu, Puluhan orang tua berkumpul di pesantren Al Khoziny berharap ada keajaiban yang muncul.
Lebih dari 50 stand produk karya santri berbagai provinsi turut mnyemarakkan gelaran MQK Internasional 2025 di Wajo, Sulawesi Selatan.
Dengan ditemukannya dua korban tersebut, jumlah santri yang meninggal dunia akibat musibah ini bertambah menjadi sembilan orang dari total 112 korban yang sudah dievakuasi.
Syuriah Pengurus Wilayah NU DKI Jakarta itu menegaskan framing mengenai dugaan keterlibatan kelembagaan NU dalam kasus kuota haji harus segera diluruskan.
Instruksi ditujukan kepada pengurus Pagar Nusa di semua tingkatan, mulai dari wilayah, cabang, anak cabang, ranting, hingga rayon.
MQK Internasional perdana ini diikuti 798 santri semifinalis dari seluruh Indonesia dan 20 peserta dari tujuh negara ASEAN. Thailand dan Filipina hadir sebagai observer.
Kasubbid Dokpol Biddokkes Polda Jatim, AKBP dr Adam Bimantoro, menjelaskan proses identifikasi dilakukan sejak jenazah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian.
Menurut Atok, seorang santri terpaksa menjalani amputasi di lokasi kejadian karena tertimpa reruntuhan bangunan.
Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Jules Abraham Abast, mengatakan jumlah korban luka yang terdata mencapai 79 orang.
BPBD Jatim mengerahkan 1 unit ekskavator untuk mencari santri yang terjebak di dalam reruntuhan bangunan.
Peristiwa nahas itu sebelumnya menewaskan seorang santri bernama Ibrahim yang tertimpa reruntuhan. Musibah terjadi saat ratusan santri tengah melaksanakan salat Asar berjemaah di musala pondok.
1 orang dinyatakan meninggal dunia usai tertimpa reruntuhan bangunan ponpes. Musibah terjadi saat ratusan santri tengah melaksanakan salat Asar berjemaah di musala pondok pesantren.
Saat pesantren ambruk, saat itu ratusan santri tengah melaksanakan ibadah berjemaah.
Informasi mengenai peristiwa ini viral di media sosial. Akun facebook E100 melaporkan adanya keruntuhan bangunan di area pondok pesantren tersebut.
Salah satu sosok yang semangat menghidupkan peranan santri dan pesantren di Indonesia adalah KH Zahrul Azhar Asumta, atau akrab disapa Gus Hans.