Siang hari, Waktu Arab Saudi (WAS), pasukan bertopi dan berbaju cokelat memadati Al Asala Al Baqiya hotel di Misfalah, Makkah, Arab Saudi. Ratusan orang yang menamakan diri sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja (Daker) Makkah, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) itu, tengah bersiap menyambut tamu Allah dari embarkasi YIA asal Kulonprogo, DIY yang akan tiba menggunakan bus dari Madinah.
Hari itu, Kamis (30/4/2026), setidaknya ada 12 kloter jemaah haji Indonesia yang tiba di Makkah. Sesaat setelah sampai di wilayah Misfalah, para jemaah tersebut langsung diarahkan ke kamarnya masing-masing. Di hotel Asala Al Baqiya, detik-detik ketibaan jemaah adalah waktu yang tidak bisa terlupakan.
Suasana yang awalnya ramai dengan suara lalu lalang orang, berubah menjadi hening. Terutama saat bus yang membawa jemaah parkir di halaman depan hotel kemudian selawat ‘tala’al badru’ dikumandangkan, orang-orang yang ada di tempat tersebut terdiam sambil menatap wajah-wajah para tamu Allah.
“Ayo siapkan kursi roda, kursi roda,” ujar seorang petugas kepada timnya yang lain, Kamis (30/4/2026).
Beberapa detik usai pihak Arab Saudi mengizinkan jemaah haji diturunkan dari bus, semua orang di sana siap siaga dengan tugas dan fungsinya masing-masing.
Para pejabat antara lain unsur Kemenhaj, KJRI hingga Syarikah turut berjejer di pintu masuk hotel. Mereka bersiap menyambut langsung para jemaah sambil memberi oleh-oleh, sebagaimana tradisi penyambutan jemaah haji di Arab Saudi.
“greeegggg” pintu bus dibuka. Beberapa personel pelindungan jemaah (Linjam) langsung menghampiri, lalu menggendong sejumlah jemaah lansia dan disabilitas.
Sementara petugas yang lain mengerjakan tugasnya dengan cukup apik, ada yang memotret, mengambil video hingga sekadar bersalaman sambil melempar senyum.
“Selamat datang bu di Kota Makkah,” ujar seorang petugas sambil tersenyum haru hingga meneteskan air mata.
Suasana haru semakin memuncak, usai jemaah satu demi satu turun dari bus. Raut wajah sumringah dan bahagia dari jemaah justru disambut dengan air mata para petugas haji yang tidak bisa lagi dibendung.
Beberapa petugas mencoba menahan agar air matanya tidak membanjiri tanah mulia itu. Namun, sulit dilakukan, terutama oleh para petugas perempuan.
Wajah merona dengan dandanan berstandar tinggi, tiba-tiba memudar oleh air mata yang berjatuhan.
“Gak kuat gue, mewek gue,” ucap Rachmatunnisa, tim Media Center Haji (MCH).
Momen haru tidak hanya dirasakan petugas perempuan, Aziz, wartawan tirto.id yang menjadi bagian MCH Kemenhaj tahun ini, juga menyampaikan hal yang sama.
“Terharu saja, ingat orang tua,” ucapnya kepada erakini.
Dia bercerita bahwa ibunya sudah sangat kesulitan ketika berjalan.
“Paling dari dalam rumah hanya sampai depan,” tuturnya.
Sambil mengusap air mata, Aziz menyebut bahwa ayahnya telah lebih dulu tiada. Momen haru tersebut yang membuat Aziz merasa sangat sedih hingga meneteskan air mata.
“Iya sedih saja,” ucapnya.
Operasional Haji 1447 H/2026 M memang bukan pelaksanaan yang pertama kali. Sebagai proses menunaikan rukun Islam yang ke-5, suasana di setiap momennya selalu memiliki cerita tersendiri, dengan nilai spiritual yang tinggi.
Semoga, para tamu Allah di Makkah dapat dilancarkan dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji, sehingga impian menjadi haji yang mabrur dapat terwujud. Amin ya rabbal alamin.