Search

Trump Tunjuk Eks PM Inggris Tony Blair dan Jenderal AS Kelola Gaza Pascaperang, Dunia Soroti Arah Kekuasaan

WASHINGTON, (ERAKINI) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Jumat (16/1/2026) mengumumkan penunjukan sejumlah tokoh kunci untuk mengelola Gaza setelah perang, termasuk mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair serta seorang perwira tinggi militer Amerika Serikat yang akan memimpin pasukan keamanan baru.

Dalam langkah yang menuai perhatian luas, Trump membentuk dewan pengawas Gaza yang didominasi tokoh-tokoh Amerika, seiring ia mendorong visi kontroversial pembangunan ekonomi di wilayah yang porak-poranda akibat lebih dari dua tahun serangan udara Israel tanpa henti.

Pengumuman ini datang tak lama setelah komite teknokrat Palestina yang dirancang untuk menjalankan pemerintahan Gaza menggelar pertemuan perdana di Kairo. Pertemuan tersebut turut dihadiri Jared Kushner, menantu Trump, yang selama ini dikenal memiliki peran sentral dalam kebijakan Timur Tengah pemerintahan AS.

Trump menegaskan dirinya akan bertindak sebagai ketua “Dewan Perdamaian Gaza”. Ia juga mengungkapkan susunan lengkap anggota dewan yang mencakup Tony Blair, Jared Kushner, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, serta Steve Witkoff, mitra bisnis Trump yang kini berperan sebagai negosiator internasional.

Penunjukan Blair menjadi sorotan tersendiri mengingat reputasinya yang kontroversial di Timur Tengah, terutama terkait keterlibatannya dalam invasi Irak tahun 2003. Trump sendiri sebelumnya menyatakan keinginannya memastikan Blair dapat diterima oleh berbagai pihak. Setelah lengser dari jabatannya pada 2007, Blair memang lama berkecimpung dalam isu Israel-Palestina sebagai utusan Kuartet Timur Tengah yang melibatkan PBB, Uni Eropa, AS, dan Rusia.

Gedung Putih menjelaskan bahwa Dewan Perdamaian Gaza akan menangani berbagai agenda strategis, mulai dari penguatan tata kelola pemerintahan, hubungan regional, rekonstruksi pascaperang, hingga menarik investasi, pembiayaan berskala besar, dan mobilisasi modal internasional.

Trump, yang berlatar belakang pengembang properti, sebelumnya sempat melontarkan gagasan menjadikan Gaza sebagai kawasan resor bergaya Riviera. Meski demikian, ia kemudian menarik kembali wacana relokasi paksa penduduk setempat.

Selain Blair, dewan tersebut juga diisi oleh Presiden Bank Dunia Ajay Banga, taipan keuangan AS Marc Rowan, serta Robert Gabriel, pejabat Dewan Keamanan Nasional yang dikenal sebagai orang kepercayaan Trump.

Serangan Israel Kembali Terjadi

Di tengah dinamika politik tersebut, militer Israel pada Jumat mengonfirmasi kembali melancarkan serangan ke Jalur Gaza. Israel berdalih aksi tersebut dilakukan sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata yang diumumkan pada Oktober lalu.

Serangan ini terjadi meskipun Washington menyatakan rencana Gaza telah memasuki tahap kedua, yakni peralihan dari gencatan senjata menuju pelucutan senjata Hamas. Kelompok tersebut diketahui melakukan serangan ke Israel pada Oktober 2023 yang kemudian memicu operasi militer besar-besaran Israel.

Pada hari yang sama, Trump menunjuk Mayor Jenderal AS Jasper Jeffers untuk memimpin Pasukan Stabilisasi Internasional. Pasukan ini akan bertugas menjaga keamanan di Gaza sekaligus melatih aparat kepolisian baru yang diproyeksikan menggantikan peran Hamas.

Jeffers, yang berasal dari satuan operasi khusus Komando Pusat AS, sebelumnya ditugaskan pada akhir 2024 untuk memantau gencatan senjata antara Lebanon dan Israel, meski konflik sporadis masih terus terjadi dengan target militan Hizbullah.

Amerika Serikat saat ini juga aktif mencari dukungan internasional untuk pembentukan pasukan stabilisasi tersebut. Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang lebih awal menyatakan kesiapan berkontribusi. Namun demikian, para diplomat memperkirakan pengiriman pasukan akan menghadapi hambatan besar selama Hamas belum menyetujui pelucutan senjata secara menyeluruh.