Sebuah kamp pengungsian yang menampung warga Palestina di pantai di tengah cuaca badai di Kota Gaza pada hari Selasa. (Foto: AP).
WASHINGTON, (ERAKINI) - Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa kini melangkah ke tahap lanjutan , sebuah fase krusial yang diharapkan membuka jalan bagi pemulihan kemanusiaan dan masa depan yang lebih bermartabat bagi rakyat . Pernyataan ini disampaikan di Washington pada Rabu, menandai perkembangan penting setelah lebih dari dua tahun perang yang menghancurkan wilayah tersebut.
Utusan Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, melalui unggahan di platform X, menyebut bahwa fase kedua dari kesepakatan gencatan senjata telah dimulai. Tahap ini mencakup rencana demiliterisasi Hamas, rekonstruksi Gaza yang porak-poranda, serta pembentukan komite teknokrat Palestina yang akan menangani pemerintahan harian Gaza dengan pengawasan internasional yang dipimpin Amerika Serikat.
Menurut Witkoff, fase ini juga mencakup pembentukan pemerintahan transisi berbasis keahlian, sebagai bagian dari upaya menata kembali Gaza pascaperang. Namun hingga kini, detail mengenai susunan pemerintahan sementara tersebut belum diumumkan secara resmi, baik oleh Witkoff maupun Gedung Putih.
Langkah ini mendapat sambutan positif dari para mediator gencatan senjata, Mesir, Turki, dan Qatar, yang menilai pembentukan komite teknokrat sebagai terobosan signifikan bagi perbaikan kondisi kemanusiaan di Gaza. Dalam pernyataan bersama, ketiga negara tersebut menyebut komite ini akan dipimpin oleh Ali Shaath, tokoh asal Gaza yang pernah menjabat sebagai wakil menteri di Otoritas Palestina.
Ali Shaath dikenal sebagai insinyur dengan keahlian di bidang pembangunan ekonomi dan rekonstruksi. Rekam jejaknya dinilai relevan untuk menghadapi tantangan besar pemulihan Gaza, yang selama bertahun-tahun terperosok dalam blokade, kehancuran infrastruktur, dan krisis kemanusiaan berkepanjangan.
Di sisi lain, Witkoff juga menegaskan harapan AS agar Hamas memenuhi komitmennya dalam kesepakatan, termasuk pengembalian sandera terakhir yang telah meninggal dunia. Meski demikian, berbagai tantangan besar masih membayangi implementasi gencatan senjata ini, mulai dari rencana pengerahan pasukan keamanan internasional hingga proses sensitif pelucutan senjata.
Pembentukan komite teknokrat ini merupakan bagian dari skema jangka panjang untuk mengakhiri dominasi Hamas di Gaza yang telah berlangsung selama 18 tahun. Komite tersebut akan mengelola kebutuhan sehari-hari warga di bawah pengawasan sebuah badan yang disebut Dewan Perdamaian, yang dipimpin oleh Trump, meskipun keanggotaannya belum dipublikasikan.
Gencatan senjata yang berlandaskan rencana 20 poin ini mulai berlaku pada Oktober lalu dan berhasil meredam sebagian besar pertempuran. Pada fase awal, Hamas membebaskan hampir seluruh sandera sebagai imbalan atas pembebasan ratusan warga Palestina yang sebelumnya ditahan Israel, sebuah langkah yang dipandang banyak pihak sebagai kemenangan kemanusiaan.
Ke depan, komite teknokrat dihadapkan pada tugas berat: memastikan layanan publik bagi lebih dari dua juta warga Gaza tetap berjalan. Tantangan besar masih mengintai, termasuk persoalan mekanisme kerja, sumber pendanaan, serta koordinasi dengan lembaga internasional.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan biaya rekonstruksi Gaza akan melampaui 50 miliar dolar AS, dengan proses pemulihan yang bisa memakan waktu bertahun-tahun. Ironisnya, hingga saat ini, komitmen dana internasional masih sangat terbatas.
Di tengah keterbatasan tersebut, kebutuhan paling mendesak adalah mengambil alih dan memulihkan layanan dasar—kesehatan, air bersih, listrik, dan transportasi, setelah hampir dua dekade Gaza berada dalam tekanan konflik dan kehancuran. Bagi rakyat Gaza, fase kedua gencatan senjata ini bukan sekadar kesepakatan politik, melainkan secercah harapan untuk hidup kembali dengan martabat di tanah mereka sendiri.