Search

Israel-Lebanon Sepakat Gencatan Senjata 10 Hari, Harapan Damai atau Sekadar Jeda di Tengah Bara Konflik?

BEIRUT, (ERAKINI) - Kesepakatan gencatan senjata, penghentian tembak-menembak selama 10 hari antara Lebanon dan Israel resmi diberlakukan sejak Jumat (17/4/2026). Momentum ini langsung dimanfaatkan ribuan warga yang sebelumnya mengungsi untuk kembali ke wilayah selatan, meski di saat yang sama militer Lebanon mengingatkan adanya sejumlah pelanggaran di lapangan.

Tak lama setelah kesepakatan berlaku tepat tengah malam waktu setempat, pihak militer Lebanon justru mengimbau masyarakat, terutama mereka yang sempat mengungsi akibat peringatan evakuasi besar-besaran dari Israel, agar tidak terburu-buru pulang. Alasannya, masih terjadi beberapa tindakan agresi Israel yang dinilai berisiko bagi keselamatan warga.

Namun peringatan tersebut tampaknya tak sepenuhnya diindahkan. Sejak sebelum fajar, arus kendaraan terlihat memadati jalur pesisir menuju selatan. Bahkan saat matahari terbit, antrean mobil masih terus melaju melewati reruntuhan jembatan yang sebelumnya hancur akibat serangan Israel.

Salah satu pengungsi, Alaa Damash, mengaku sempat mendengar imbauan untuk menunda kepulangan. Ia mengatakan warga diminta “untuk menunggu sebentar”, tetapi dorongan emosional lebih kuat. “Namun, kecintaan orang-orang terhadap tanah dan rumah mereka, dan keterikatan mereka terhadapnya, mendorong mereka untuk kembali ke sana meskipun ada ancaman kebakaran,” ujarnya.

Kesepakatan ini menjadi bagian penting dari manuver diplomatik yang lebih luas, terutama upaya Washington untuk meredakan konflik regional yang melibatkan Iran. Teheran sendiri menegaskan bahwa penghentian konflik di Lebanon harus menjadi elemen dalam setiap kesepakatan yang lebih besar.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyambut positif perkembangan ini. Ia menyatakan harapan bahwa langkah tersebut dapat membuka jalan menuju perdamaian jangka panjang. “Saya menyambut baik pengumuman gencatan senjata di Lebanon, yang difasilitasi melalui upaya diplomatik yang berani dan bijaksana yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump, dan menyatakan harapan bahwa hal itu akan membuka jalan bagi perdamaian berkelanjutan,” tulisnya.

Ia juga menegaskan, “Pakistan menegaskan kembali dukungannya yang teguh terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon, dan akan terus mendukung semua upaya yang bertujuan untuk perdamaian abadi di kawasan tersebut.”

Di sisi lain, pemerintah Iran turut merespons positif. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa penghentian konflik di Lebanon merupakan bagian dari kesepahaman lebih luas antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi oleh Pakistan.

Konflik di Lebanon sendiri kembali memanas sejak 2 Maret, ketika kelompok Hizbullah yang didukung Iran meluncurkan roket ke wilayah Israel. Serangan itu disebut sebagai balasan atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam gelombang serangan awal yang melibatkan AS dan Israel.

Saat gencatan senjata mulai berlaku, suasana di pinggiran selatan Beirut diwarnai suara tembakan yang diduga sebagai bentuk perayaan spontan. Meski begitu, situasi di lapangan tetap tegang. Kemacetan panjang terjadi di sekitar jembatan utama yang menghubungkan wilayah selatan Sungai Litani dengan daerah lain, akibat membludaknya warga yang ingin pulang.

Militer Israel mengklaim telah menyerang lebih dari 380 target milik Hizbullah sebelum gencatan senjata dimulai, dan menyatakan tetap berada dalam kondisi “siaga tinggi” untuk kemungkinan eskalasi lanjutan.

Presiden AS, Donald Trump, mengungkapkan bahwa dirinya telah berkomunikasi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta Presiden Lebanon Joseph Aoun sebelum kesepakatan diumumkan. Ia menyebut kedua pihak sepakat melakukan gencatan senjata “untuk mencapai perdamaian antara negara mereka.”

Trump juga menyatakan kemungkinan pertemuan langsung antara Netanyahu dan Aoun di Gedung Putih dalam beberapa hari ke depan, sebuah langkah yang berpotensi menjadi titik balik penting, meski realisasinya masih belum pasti.

Netanyahu sendiri melihat peluang terciptanya “kesepakatan perdamaian bersejarah”, namun tetap menegaskan bahwa pelucutan senjata Hizbullah menjadi syarat utama. Sementara itu, pemerintah Lebanon menilai gencatan senjata ini sebagai tuntutan mendasar yang sejak awal diperjuangkan.

Di tengah dinamika politik dan militer tersebut, suara rakyat tetap sederhana. Jamal Shehab, seorang ibu rumah tangga di Beirut, mengungkapkan kelegaan yang dirasakan banyak warga. “Kami sangat senang bahwa gencatan senjata telah tercapai di Lebanon karena kami lelah dengan perang dan kami menginginkan keamanan dan perdamaian,” tuturnya.

Trump pun menggambarkan perkembangan ini sebagai sesuatu yang “sangat menggembirakan,” seraya menambahkan, “Hari ini mereka akan melakukan gencatan senjata, dan itu akan termasuk Hizbullah.”

Meski demikian, bayang-bayang konflik belum sepenuhnya sirna. Seorang anggota parlemen Hizbullah menyatakan pihaknya akan “dengan hati-hati mematuhi” kesepakatan selama Israel menghentikan serangan.

Israel sendiri tetap bersikukuh mempertahankan zona keamanan sejauh 10 kilometer di wilayah Lebanon selatan. Bahkan, beberapa jam sebelum gencatan senjata berlaku, serangan masih terjadi, menewaskan sedikitnya tujuh orang di Ghazieh dan melukai puluhan lainnya, menurut otoritas kesehatan Lebanon.