Menhan AS Pete Hegseth menyebut blokade militer terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan terus berlangsung. Washington siap melancarkan serangan baru terhadap fasilitas energi Iran. Foto: Al Jazeera
JAKARTA, (ERAKINI) – Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth menyebut blokade militer terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan terus berlangsung. Washington siap melancarkan serangan baru terhadap fasilitas energi .
Pernyataan itu disampaikan Hegseth pada Kamis (16/4/2026), di tengah gencatan senjata rapuh yang disepakati pekan lalu dan masih berlangsung. Pada Senin lalu, Presiden Donald Trump mengumumkan militer AS akan memblokade pelabuhan Iran di Selat Hormuz dan Teluk Persia, setelah perundingan AS-Iran di Pakistan gagal mencapai kesepakatan damai.
Hegseth menggunakan nada agresif dengan menyebut militer AS terus memantau pergerakan Iran selama jeda konflik, yang saat ini direncanakan berlangsung hingga awal pekan depan.
“Kami mengisi ulang kekuatan dengan daya yang lebih besar dari sebelumnya… dan yang lebih penting, intelijen yang lebih baik dari sebelumnya,” kata Hegseth, dilansir Al Jazeera.
“Ketika Anda memperlihatkan pergerakan Anda di bawah pengawasan kami, kami siap menyerang infrastruktur penting yang memiliki fungsi ganda, sisa pembangkit listrik, dan industri energi Anda,” lanjutnya.
Meski demikian, Hegseth menegaskan bahwa AS tetap menginginkan penyelesaian konflik, yang bermula dari seranganAS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, melalui jalur diplomasi.
“Anda, Iran, bisa memilih masa depan yang sejahtera, sebuah ‘jembatan emas’, dan kami berharap Anda memilihnya demi rakyat Iran,” katanya.
“Namun, selama diperlukan kami akan mempertahankan blokade ini. Jika Iran memilih langkah yang salah, maka mereka akan menghadapi blokade dan serangan bom terhadap infrastruktur, listrik, dan energi.”
Hegseth juga membantah laporan bahwa China berencana mengirim senjata ke Iran selama jeda konflik. Ia mengatakan Washington telah menerima jaminan dari Beijing bahwa hal tersebut tidak benar.
Hegseth turut mengkritik pemberitaan media AS terkait perang tersebut, yang menurutnya mendapat sorotan karena perubahan tujuan dan alasan pemerintah dalam memulai konflik. Ia menyebut liputan tersebut sebagai “sangat tidak patriotik”.
Sementara itu, dalam konferensi pers Kamis, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menyebut sejauh ini 13 kapal yang meninggalkan pelabuhan Iran telah berbalik arah setelah mendapat peringatan militer AS. “Jika Anda tidak mematuhi blokade ini, kami akan menggunakan kekuatan,” tegasnya.