VENEZUELA, (ERAKINI) - Venezuela disebut tengah melangkah ke sebuah fase sejarah baru usai tergulingnya Nicolas Maduro dari tampuk kekuasaan. Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, pada Rabu (14/1/2026) menyatakan bahwa negaranya kini membuka lembaran baru yang ditandai dengan meningkatnya ruang toleransi terhadap perbedaan pandangan dan rival politik, menyusul intervensi Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan mantan pemimpin tersebut.
Dalam konferensi pers perdananya sejak Maduro ditangkap secara dramatis oleh pasukan AS pada 3 Januari lalu, Rodriguez menampilkan citra dirinya sebagai figur pemersatu nasional. Ia menegaskan bahwa setelah 12 tahun pemerintahan otoriter, Venezuela kini siap meninggalkan masa kelam dan bergerak menuju tatanan politik yang lebih terbuka.
“Venezuela sedang membuka diri terhadap era politik yang benar-benar baru,” ujar Rodriguez di hadapan wartawan di Istana Kepresidenan. Menurutnya, masa depan negara akan dibangun di atas pemahaman lintas perbedaan, dengan menghormati keragaman ideologi dan pandangan politik yang selama ini ditekan.
Pengangkatan Rodriguez sebagai pemimpin sementara terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui pengambilalihan kekuasaan tersebut, dengan syarat Caracas mengikuti garis kebijakan yang sejalan dengan Washington. Keputusan ini sekaligus menyingkirkan tokoh oposisi garis keras anti-Maduro, Maria Corina Machado, yang dinilai Trump tidak memiliki legitimasi sosial yang cukup kuat di dalam negeri.
Meski demikian, Machado dijadwalkan bertemu Trump di Gedung Putih pada Kamis untuk kembali mendesakkan tuntutan transisi demokrasi menyeluruh, termasuk keterlibatan dirinya dan Edmundo Gonzalez Urrutia, kandidat oposisi dalam pemilu 2024 yang diklaim telah dicurangi oleh rezim Maduro.
Sejauh ini, perhatian utama Trump disebut masih terfokus pada pengamanan akses terhadap cadangan minyak Venezuela yang sangat besar. Namun ia juga mengklaim telah menyiapkan langkah lanjutan terhadap Venezuela, sebelum akhirnya pemerintah Caracas mengumumkan pembebasan besar-besaran para tahanan politik yang selama ini mendekam di penjara, bahkan hingga bertahun-tahun.
Rodriguez menyatakan bahwa pihak berwenang telah membebaskan 406 tahanan sejak Desember, dengan proses yang dipercepat dalam sepekan terakhir, dan menegaskan bahwa langkah tersebut masih akan berlanjut. Namun, organisasi HAM Foro Penal melaporkan angka yang lebih rendah, yakni sekitar 180 orang. Sementara perhitungan independen AFP, berdasarkan data LSM dan oposisi, mencatat sekitar 70 tahanan dibebaskan sejak 8 Januari.
Di antara mereka terdapat sejumlah warga negara Amerika Serikat, sebagaimana dikonfirmasi oleh pejabat Departemen Luar Negeri AS, meski tanpa menyebutkan jumlah pasti.
Gelombang pembebasan terus berlanjut pada Rabu dengan dilepaskannya 17 jurnalis dan pekerja media. Salah satunya adalah Roland Carreño, jurnalis sekaligus aktivis oposisi terkemuka yang ditangkap pada Agustus 2024 saat demonstrasi pascapemilu. Ia diketahui telah mendekam di balik jeruji selama satu tahun lebih lima bulan, menurut Serikat Pekerja Pers Nasional.
Carreño, yang merupakan anggota partai Voluntad Popular (Kehendak Populer), sebelumnya juga pernah dipenjara pada 2020–2023 dengan tuduhan terorisme, pasal yang kerap dituding sebagai alat pembungkam oposisi politik di Venezuela.
Dalam sebuah video yang beredar usai pembebasannya, Carreño menyerukan perdamaian dan rekonsiliasi nasional, menandai harapan baru bagi bangsa yang lama terbelah. Selain dirinya, analis politik Nicmer Evans, Direktur kantor berita Punto de Corte, juga termasuk di antara mereka yang akhirnya menghirup udara bebas.
Bagi banyak warga Venezuela, runtuhnya kekuasaan Maduro dan pembebasan para tahanan politik menjadi sinyal awal bahwa negeri itu mungkin benar-benar tengah menuju perubahan politik yang lebih adil, manusiawi, dan demokratis.