TEHERAN, (ERAKINI) – Iran menyampaikan siap segera mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araqchi telah menghubungi para Menlu sejumlah negara kewasan untuk menyampaikan posisi terbaru Teheran tersebut.
Dilansir kantor berita Tasnim, Sabtu (2/5/2026), Araqchi telah melakukan percakapan telepon secara terpisah dengan menteri luar negeri Turki, Mesir, Qatar, Arab Saudi, Irak, dan Republik Azerbaijan.
Dalam pembicaraan tersebut, Araqchi menjelaskan posisi terbaru Teheran serta langkah-langkah diplomatik yang ditempuh guna mengakhiri perang agresi yang disebut dipaksakan oleh As dan rezim Zionis.
Iran juga dikabarkan telah menyampaikan kepada para mediator tentang kesiapannya melakukan perundingan di Pakistan awal pekan depan, dengan syarat AS bersedia menerima proposal barunya, menurut laporan The Wall Street Journal, mengutip beberapa sumber.
Teheran diperkirakan menawarkan perundingan syarat-syarat pembukaan Selat Hormuz jika AS menjamin penghentian serangan dan pencabutan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada Jumat (1/5) menyampaikan kepada Kongres bahwa perang dengan Iran, yang dimulai pada 28 Februari, telah berakhir, meskipun Pentagon terus memperbarui postur militernya di kawasan tersebut karena ancaman yang diduga masih ada.
Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menolak klaim Washington bahwa perang agresi AS-Israel terhadap Iran dilakukan sebagai bentuk pembelaan diri. Ia menegaskan tidak ada serangan bersenjata dari Iran yang dapat dijadikan pembenaran atas tindakan tersebut.
Dalam unggahan di akun X miliknya, Baqaei menanggapi pernyataan Departemen Luar Negeri AS yang menyebut kampanye militer tanpa provokasi terhadap Iran sebagai bagian dari konflik bersenjata yang sedang berlangsung dan dilakukan dalam kerangka pembelaan diri kolektif bersama Israel.
Mempertanyakan dasar hukum argumen AS, Baqaei menanyakan serangan bersenjata apa yang diduga dilakukan Iran sehingga bisa dijadikan alasan untuk mengklaim pembelaan diri. Ia menegaskan, tidak pernah ada serangan semacam itu.
“Pembelaan diri terhadap apa? Apakah ada serangan bersenjata oleh Iran yang membenarkan pembelaan diri? Tentu saja tidak,” kata Baqaei. “Jadi ini jelas bukan pembelaan diri, melainkan tindakan agresi terhadap bangsa Iran,” lanjutnya.
AS dan Israel melancarkan kampanye militer besar-besaran tanpa provokasi terhadap Iran setelah pembunuhan terhadap Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil, pada 28 Februari 2026.
Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap posisi-posisi Amerika dan Israel di kawasan. Iran mengklaim serangan tersebut menunjukkan kemampuan mereka untuk membalas secara efektif.
Meski semula diperkirakan akan meraih kemenangan cepat, respons Iran disebut menimbulkan kerusakan besar pada sumber daya militer AS dan Israel, sekaligus memperkuat persatuan nasional serta semangat perlawanan rakyat Iran.