Mengeja Kota
Perempuan itu berjalan di bawah gerimis,
dibawanya setangkai mawar putih
yang dipetik dari kehidupan
Ia susuri kota-kota yang dicintainya
Dengan luka yang tak dapat dieja
Pipinya basah oleh air hujan
Hatinya basah oleh air mata
Malam pekat memeluk
Menuntunnya tinggalkan keramaian
Mencari dirinya yang hilang
Gerimis petang tadi, ialah air mata yang jatuh membahasi kota.
Ia dekap hati yang lembab
Doa-doa, membawanya pulang ke tebing kesunyian.
Bintaro, 2023
Di Atas Kota Ini
Pukul setengah sembilan
Mewakili angin, batinku luluh
Segala hitam dan kengerian, terbang terbayang
Keluar dari cerobong-cerobong kehidupan
Meliuk, menembus tabir transparan
Kesejukan pagi mulai dilukis
oleh perpaduan muram dan limbah-limbah yang menguap
Menciptakan mendung tanpa air hujan
Tak ada yang mendengar aku berteriak
Mengutuk dan bergidik
Kucoba acuh, makin sesak
Suaranya kalah oleh bisik-bisik
Oleh derung kanan kiri
Semarang, 2019
Langit Kepala
Langit kepalaku tak lagi biru
Ia tertumpah oleh limbah peradaban
Hingga cahaya terperangkap
Merangkai takut yang baru
dan dada mengecil
Sampai-sampai lupa, masihkah aku ada?
Langit kepalaku kelabu
Ia tertumpah oleh mimpi orang kota
Hingga di ujung pandang pepohon memudar
Merangkai sesak yang baru
dan wajah membiru
Sampai sampai lupa, masih dunia kah dunia?
(Semarang, 2019)
Mohammad Azzam
Lahir 23 Maret 1999.
Pernah aktif di Komunitas Kelas Menulis Cerpen Kedai Kang Puthu Semarang.