Ragita Dwi Nur Rahmadiani, perempuan asal Mojokerto membuktikan bahwa pekerjaan satpam bukanlah penghalang untuk meraih gelar sarjana. Foto: UM Surabaya
Ragita meraih IPK nilai 3,8 sehingga menjadikannya salah satu wisudawan yang menginspirasi dalam Wisuda ke-52 Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya tahun 2025.
Ragita mengaku tak menyangka bisa menyelesaikan studinya tepat Waktu dan meraih IPK Cumlaude. Kini, dia berencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
"Bagi saya, keterbatasan finansial bukan alasan untuk menghentikan impian. Allah ingin melihat sejauh mana kita bisa berjuang meraih cita-cita," tuturnya, dikutip dari keterangan resmi UM Surabaya, Selasa (18/2/2025).
Ragita lulus dari jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Ragita memiliki latar belakang pendidikan SMK Jurusan Tata Boga. Setelah lulus, ia sempat berkeinginan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Namun kendala biaya membuatnya memilih untuk bekerja dan menabung terlebih dahulu agar bisa kuliah.
“Waktu itu ada lowongan satpam perempuan di UM Surabaya. Alhamdulillah keterima. Setelah 2 tahun jadi karyawan tetap, saya memutuskan untuk kuliah mengambil kelas malam, karena pagi kerja,”jelasnya.
Ragita memang lahir dan besar dari keluarga tergolong kurang mampu. Ayahnya, Mulyono, hanya sopir truk di pabrik gula di Mojokerto. Sementara ibunya, Yuni Eka Winarti, kesehariannya berjualan nasi dan kue keliling menggunakan sepeda motor.
Ragita sudah 7 tahun menjadi satpam di UM Surabaya. Lantas bagaimana cara membagi waktu antara kuliah dan bekerja sehingga mendapat IPK Cumlaude? Ragita mengatakan selalu menyempatkan untuk belajar.
"Meskipun kuliah dan bekerja, saya selalu menyempatkan diri untuk belajar setelah pukul 3 sore. Kuliah dimulai pukul 18.00, jadi saya punya waktu untuk belajar, terutama saat UTS dan UAS," tandasnya.
UM Surabaya menggelar Wisuda ke-52 di Dyandra Convention Center, pada Senin (17/2/2025), yang diikuti sebanyak 666 wisudawan dan wisudawati .
Momen spesial ini juga menjadi yang pertama bagi Dr Mundakir sebagai Rektor baru UM Surabaya, setelah menggantikan Dr Sukadiono yang kini menjabat sebagai Deputi di Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK).
Mundakir menyatakan bahwa wisuda kali ini menjadi momen penting dalam kepemimpinannya. “Ini adalah kebijaksanaan pertama saya sebagai rektor. Tentu saja, kami memikul tanggung jawab besar untuk melanjutkan dan mengembangkan program-program yang telah ada,” ujarnya.
UM Surabaya kini telah meraih akreditasi “Unggul” dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) dan berkomitmen untuk mempertahankan serta meningkatkan status tersebut.
Saat ini, UM Surabaya juga tengah mempersiapkan pengakuan internasional, salah satunya melalui kerja sama dengan perguruan tinggi di Taiwan. Kerja sama ini akan memberikan kesempatan bagi mahasiswa UM Surabaya untuk memperoleh gelar master dalam waktu satu tahun.
“Ini adalah bagian dari upaya kami untuk membawa pendidikan UM Surabaya ke tingkat global, memberikan peluang yang lebih besar bagi mahasiswa,” kata Mundakir.