JAKARTA, (ERAKINI) - Wilayah Daerah Istimewa (DIY) Yogyakarta resmi memasuki fase paling basah dalam siklus tahunan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY mengeluarkan peringatan dini terkait meningkatnya potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung selama satu pekan ke depan. Peringatan ini disampaikan dalam forum Rapat Koordinasi dan Konferensi Pers bersama BPBD, media, serta sejumlah pemangku kepentingan.
Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Warjono, mengungkapkan bahwa hujan dengan intensitas menengah hingga tinggi masih berpeluang terjadi di berbagai wilayah DIY. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer skala regional dan lokal yang saat ini sangat kondusif untuk pembentukan awan hujan.
“Secara global, fenomena ENSO dan IOD berada pada kondisi netral sehingga tidak menjadi pemicu utama peningkatan hujan. Namun, faktor regional dan lokal seperti suhu muka laut yang hangat, kelembapan udara yang tinggi, serta adanya pola konvergensi di sepanjang Pulau Jawa masih mendukung terjadinya hujan di wilayah DIY,” jelasnya dikutip dari laman resmi BMKG, Jumat (16/1/2026).
Adapun BMKG mencatat suhu muka laut di perairan selatan Jawa dan Laut Jawa berkisar antara 28–29 derajat Celsius. Kondisi ini menyediakan suplai uap air yang cukup signifikan untuk pembentukan awan hujan. Selain itu, kelembapan udara pada lapisan bawah hingga menengah atmosfer tergolong basah.
“Hasil prediksi kami menunjukkan bahwa pada hari ini, 13 Januari 2026, intensitas hujan diprediksi dapat mencapai kategori Lebat dengan curah hujan antara 50 hingga 100 milimeter per hari, khususnya di wilayah Sleman bagian Utara, Kulon Progo bagian Selatan, dan Bantul bagian Selatan. Sementara untuk tanggal 14 hingga 15 Januari, intensitas hujan diprakirakan sedikit menurun ke kategori sedang, namun tetap perlu diwaspadai,” imbuhnya.
Periode Puncak Musim Hujan, Potensi Cuaca Ekstrem Meningkat
Menurut Kepala Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta, Reni Kraningtyas, kondisi cuaca tersebut tidak terlepas dari fase puncak musim hujan yang saat ini sedang berlangsung di wilayah DIY. “Berdasarkan analisis klimatologis, wilayah DIY saat ini berada pada periode puncak musim hujan 2025/2026 yang umumnya terjadi pada Januari hingga Februari. Pada fase ini, potensi kejadian cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi memang cenderung meningkat,” ungkapnya.
Meskipun ENSO dan IOD diprediksi menuju kondisi netral hingga pertengahan 2026, menurutnya, curah hujan pada periode puncak musim hujan masih berpotensi tinggi. “Curah hujan bulanan pada Januari 2026 di wilayah DIY diperkirakan berada pada kategori normal hingga atas normal. Oleh karena itu, risiko bencana hidrometeorologi masih perlu diantisipasi,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator BMKG DIY, Ardhianto Septiadhi mengimbau pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, khususnya di wilayah rawan banjir dan longsor. “Masyarakat diharapkan tetap tenang namun waspada, serta secara aktif memantau informasi cuaca dan iklim terkini melalui kanal resmi BMKG. Langkah mitigasi dini di lingkungan masing-masing sangat penting untuk meminimalkan dampak cuaca ekstrem,” katanya.