Search

Potret Porak Poranda Israel usai Serangan Balasan Iran, Beit Shemesh Dihujani Rudal, 9 Tewas

BEIT SHEMESH, (ERAKINI) - Kota Beit Shemesh, Israel, porak-poranda setelah dihantam serangan rudal Iran yang menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai puluhan lainnya, pada Minggu (1/3/2026) waktu setempat. Serangan ini menjadi bagian dari eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam operasi gabungan Israel dan Amerika Serikat.

Otoritas layanan darurat Israel melaporkan sembilan korban jiwa dan 28 orang mengalami luka-luka di Beit Shemesh. Dengan tambahan korban tersebut, jumlah warga Israel yang tewas sejak konflik terbaru meletus meningkat menjadi 10 orang.

Warga di Tel Aviv mengaku mendengar dentuman keras yang diduga berasal dari rudal yang menghantam wilayah Israel atau hasil intersepsi sistem pertahanan udara.

Militer Israel menyebut Iran meluncurkan ‘puluhan’ rudal ke berbagai titik di wilayahnya, meskipun sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan. Sementara itu, layanan darurat Magen David Adom mengonfirmasi seorang perempuan di wilayah Tel Aviv meninggal dunia akibat luka serius yang dideritanya dalam serangan tersebut.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam pidato yang disiarkan televisi nasional menyatakan bahwa Israel telah ‘melampaui batas’ dan harus menerima konsekuensinya. Serangan rudal ini disebut sebagai bagian dari operasi balasan terhadap target militer Israel dan Amerika Serikat di sejumlah negara Timur Tengah.

Pihak militer Amerika Serikat melaporkan tidak ada korban jiwa dari personel mereka serta hanya kerusakan infrastruktur dalam skala terbatas, meskipun serangan yang terjadi disebut melibatkan ‘ratusan rudal dan drone Iran’.

Tim penyelamat dan personel militer terlihat bekerja di lokasi terdampak di Beit Shemesh untuk mengevakuasi korban dan mengamankan area. Sejumlah bangunan mengalami kerusakan akibat hantaman rudal.

Eskalasi ini memperlihatkan meningkatnya ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, serta memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan yang telah lama dilanda instabilitas.