Plastik Kresek dan Demokrasi Daging Kurban
Wibowo Prasetyo
Wibowo Prasetyo
Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan
Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia
ADA satu benda sederhana yang hampir selalu muncul setiap Iduladha di Indonesia: plastik kresek. Kadang warnanya hitam tipis, kadang putih bening, kadang malah bekas kantong belanja yang dipakai ulang. Tidak mewah, tidak menarik, dan mungkin mudah dilupakan pada hari-hari biasa. Tetapi setiap Iduladha datang, plastik sederhana itu seperti memiliki makna lain.
Di dalamnya ada potongan daging sapi atau kambing, kadang bercampur tulang, hati, atau jeroan. Nantinya bakal diolah menjadi gulai, sate, tongseng, rendang, atau masakan rumahan sederhana.
Namun yang dibawa pulang orang sebenarnya bukan cuma daging. Ada perasaan ikut menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar: kebersamaan.
Itulah sebabnya Iduladha di Indonesia selalu terasa berbeda. Ia bukan hanya peristiwa ibadah, tetapi juga peristiwa sosial. Sejak pagi, halaman masjid, lapangan kampung, hingga jalan kecil di depan rumah mendadak hidup. Orang-orang berkumpul tanpa banyak dikomando.
Ada yang menyembelih hewan kurban, memotong daging, menimbang, dan membungkusnya. Ada juga yang mencatat nama penerima. Sementara anak-anak mondar-mandir melihat aktivitas tersebut.
Menariknya, pekerjaan besar itu hampir selalu berjalan tanpa banyak keributan. Tidak ada rapat panjang, tidak ada honor panitia kurban. Tetapi semua tahu apa yang harus dilakukan. Barangkali di situlah gotong royong bekerja paling nyata: hadir sebagai kebiasaan, bukan slogan.



















