Esai 'Ketika Langit Membaca Puisi: Bulan Juni yang Basah'
Wibowo Prasetyo
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu...
— Sapardi Djoko Damono
BEGITULAH penggalan puisi ‘Hujan Bulan Juni’ karya Sapardi Djoko Damono. Lirih, indah. Penuh nuansa profetik. Betapa tidak. Juni 2025 datang, namun langit masih rajin menumpahkan air matanya. Mirip puisi Sapardi. Ketika almanak cuaca mestinya menunjukkan kemarau, hujan justru jatuh hampir setiap subuh dan petang: hujan di bulan Juni.
Puisi Sapardi relevan dengan kondisi saat ini. Bisa jadi Sang Begawan Sastra itu menulis puisinya tak hanya mengandalkan daya cipta dan rasa yang penuh intuisi, tapi juga dengan firasat. Puisinya terasa seperti nubuat: prediksi tentang masa depan. Tentang alam yang kehilangan irama. Tentang musim yang tak lagi patuh pada kalender. Dan kita, manusia yang mengatur segalanya lewat angka, justru kini menjadi saksi ketidakteraturan yang lirih namun nyata. Hujan datang dengan kesabaran yang keliru waktunya. Menyingkap absurditas atmosfer yang tengah melanda bumi.
Di Indonesia, musim kemarau tahun ini datang dengan wajah yang basah. Sawah-sawah yang seharusnya mengering menjelang panen malah kembali tergenang. Jalan-jalan ibu kota lebih sering berselimut mendung, bahkan sesekali tergenang banjir. Dari data BMKG, di Banjarmasin, air sempat naik hingga lutut pada akhir Mei lalu. Di Sulawesi Tengah, curah hujan di Bantilan tercatat mencapai 193,2 mm hanya dalam sehari. Angka yang biasa ditemukan saat puncak musim hujan, bukan saat kemarau.
Fenomena ini bukan yang pertama. Pada 2010, La Nina kuat menyebabkan anomali curah hujan tinggi di musim kemarau. Tahun 2016, kondisi serupa muncul akibat Indian Ocean Dipole (IOD) negatif yang memperkuat hujan musiman. Di Jepang, berdasarkan Japan Meteorological Agency, tsuyu—musim hujan yang datang terlambat pada 2020—menyebabkan longsor dan banjir besar. Sementara menurut Environment Canada, di Kanada, musim dingin 2023 tercatat hampir tanpa salju di beberapa wilayah, akibat terganggunya jet stream dan pemanasan wilayah Arktik.
BMKG menyebut situasi tahun ini sebagai kemarau basah. Angin monsun Australia yang biasanya membawa udara kering melemah. Suhu muka laut di sekitar Indonesia yang lebih hangat (+0,5°C hingga +1,5°C) meningkatkan penguapan dan awan hujan (BMKG, 2025b). Menurut prakiraan BMKG per Juni 2025:


















