Menggali Kesejatian (30): Pada Akhirnya
Hamdan Juhannis
PADA akhirnya kita menginginkan kesejatian hadir menjadi bagian tak terpisahkan dalam diri. Diri ingin menjadi manusia sejati, manusia yang telah meresapi tentang esensi kemanusiaan, mengalami puncak spritualitas tentang kehambaan, memerankan setiap bagian fungsi kekhalifaan.
Pada akhirnya kita ingin memahami diri yang sesungguhnya, diri yang aslinya ibarat kertas putih bersih. Diri yang yang diteorikan oleh ahli sebagai "tabularasa", batu tulis yang bersih atau papan tulis yang masih kosong.
Pada akhirnya kita ingin menyelami hakekat diri yang asli, bibir yang selalu melempar senyum, tangan yang selalu ingin menjabat, punggung yang selalu berusaha menggedong (back carry), mata yang selalu memberi kode persahabatan, kantong celana yang selalu ingin diraba untuk yang butuh. Jiwa yang selalu bersikap inklusif kepada yang berbeda.
Pada akhirnya kita pun tahu bahwa diri begerak berkelindan dengan perubahan zaman. Diri yang sudah tidak sering lagi mengaji karena diganti kesibukan medsos. Diri yang sudah mulai menggulung tasbih karena kesibukan game online. Diri yang sudah jarang hadir pada pengajian, karena lebih menikmati kesendirian sambil menggenggam gawai.
Diri yang sudah menjauhkan keluarga terdekat, karena disibukkan oleh kedekatan dari keluarga online yang begitu jauh. Diri yang mulai meninggalkan segala yang berbau "nyata" karena disibukkan oleh hal baru memikat yang serba "maya".

















