Menggali Kesejatian (29): Rekayasa Kehebatan
Hamdan Juhannis
SAYA suka tertawa sendiri kalau mengingat beberapa kesempatan sebelum shalat berjamaah. Adalah teman saya, Prof. Andi Aderus, selalu mendorong saya jadi imam saat shalat berjamaah dengannya pada situasi tertentu. Setidaknya sudah dua kali dia melakukan itu ke saya.
Pertama, saat shalat di Masjid Istiqlal. Ma'mumnya adalah dia, dan Pak Ali, staf saya. Yang kedua adalah ketika shalat di Masjid Istana Negara, Baiturrahim. Ma'mumnya adalah dia bersama beberapa orang yang terlambat mengikut shalat berjamaah.
Saya penasaran karena secara kapasitas dan persyaratan umum untuk menjadi Imam, dialah yang jauh memenuhi syarat dibanding saya. Dia alumni dari Arab, bacaannya lebih fasih, hafalannya lebih banyak, dan pemahaman keagamaannya lebih bagus.
Akhirnya saya tahu motifnya. Dia menyebarkan kepada teman-teman lain di kampus dan di kampung, bahwa saya sudah pernah jadi Imam di Masjid Istiqlal. Saya juga sudah jadi Imam di Masjid Istana. Saat dia ceritakan pada salah seorang teman yang sama-sama petugas haji tahun lalu, teman itu menimpali bahwa saya juga sudah jadi muadzin di tanah suci dan Imam di Masjid Haram. Situasinya sama seperti yang saya gambarkan di atas.
Kenapa saya tertawa, saya memahami bahwa teman saya ingin melekatkan sebuah identitas pada saya. Sebuah "pride" yang berefek pada pengakuan orang pada saya. Itu sebenarnya bagian dari cara teman saya meramu humor saat jalan bersama.


















