Teriakan Menggetarkan, Suasana Meneduhkan: Aksi Damai di Kapten Tendean
Hendy Kisno
Hendy Kisno,
Fans Berat Arsenal dan Pemilik Kedai Kopi
SEBAGAI pemilik kedai kopi, saya terbiasa melihat berbagai emosi manusia setiap hari: dari pegawai kantor yang stres karena laporan bulanan, mahasiswa yang patah hati, hingga bapak-bapak yang mencari alasan untuk kabur dari rumah demi secangkir Americano. Tapi emosi yang saya lihat bakda Jumat di Jalan Kapten Tendean, tepat di depan Studio Trans7, adalah jenis emosi yang berbeda—bukan marah karena benci, melainkan marah karena cinta... dan kemarahan itu disampaikan dengan adab.
Saya datang dari arah Mampang melintas Jl. Kapten Tendean setelah salat Jumat, tapi arus kendaraan dialihkan. Dari kejauhan, saya melihat ribuan orang berpakaian hitam. Mereka berdiri rapat, berbaris seperti pasukan. Dari lambang di dada mereka, saya tahu: ini para pendekar Pagar Nusa, pasukan bela diri Nahdlatul Ulama.
Saya akui, jantung saya mulai berdetak lebih cepat. Sebagai fans Arsenal, saya sudah terbiasa menghadapi situasi menegangkan. Namun ini berbeda, ini nyata.
Marah yang Tidak Meledak, Tapi Menyala di Dalam
Dari panggung orasi, seorang orator memekikkan kalimat dengan nada tinggi: “Bela Kiai!” Massa menjawab serentak: "Sampai Mati!”
Suara itu lantang, kuat, penuh emosi. Dari nada suara mereka, saya tahu: mereka marah. Marah karena kiai mereka merasa dihina. Marah karena pesantren mereka disudutkan.


















