Ilusi Kopi Rp50 Ribu
Farid Mustofa
Sore itu saya duduk di kafe yang seminggu lalu viral. Letaknya tidak terlihat dari jalan raya. Harus melewati jalan sempit berbatu, menembus sela-sela kebun pisang dan pepohonan perdu untuk sampai. Tak ada papan nama besar. Hanya sebuah plang kecil dari kayu bekas, yang ditulis dengan cat tangan agar tampak lusuh. Tempatnya rapi, hangat, dan beraroma kayu basah. Meja-meja dari rotan dipadukan dengan bangku besi model vintage, tanaman gantung menjuntai dari langit-langit, dan cahaya matahari sore masuk dari sela-sela tirai linen. Udara sore mengendap tenang seperti ruang yang memang diciptakan bukan untuk ngobrol, melainkan untuk difoto.
Di sekeliling saya pengunjung berdatangan. Pasangan kekasih, sekelompok perempuan dengan dress warna tanah liat, seorang pria sendirian yang sibuk dengan kamera mirrorless-nya. Mereka bergantian memotret. Bukan hanya kopi atau makanan, tapi juga kursi kayu yang terkena cahaya, dinding bata yang retak cantik, atau bayangan daun mangga yang jatuh di atas meja. Ada yang belum menyentuh kopinya, tapi sudah memosting lima kali.
Saya duduk mengamati. Ikut tergoda meraih HP tapi saya urungkan. Saya mbatin “Apakah kita datang ke sini untuk minum kopi, atau untuk diakui bahwa kita minum kopi di sini? Apakah secangkir kopi ini punya rasa, atau hanya berfungsi sebagai latar kisah yang ingin kita tampilkan? Apakah ruang ini diciptakan untuk kenyamanan atau untuk menciptakan versi terbaik kita di depan kamera?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengendap lama, bahkan setelah kopi saya tinggal setengah dan matahari sudah bergeser. Saya teringat satu nama yang pernah menggumamkan kebenaran getir zaman ini. Jean Baudrillard, filsuf Prancis, yang jauh sebelum era Instagram dan TikTok, menyebut fenomena sore ini sebagai hyper reality.
Dalam bukunya Simulacra and Simulation, ia menggambarkan zaman modern sebagai era di mana batas antara kenyataan dan ilusi kabur. Di dunia seperti ini gambar, simbol, dan simulasi justru lebih dipercaya daripada kenyataan itu sendiri. Alih-alih mengalami hidup otentik, kita menjalani versi hidup yang sudah diatur tampilannya dan dipoles untuk terlihat ideal oleh kamera, iklan, branding, dan algoritma.
Kita pun terbiasa hidup di dalam cermin. Bukan cermin yang memantulkan apa adanya, tapi cermin yang sudah dipasang filter. Kita percaya gambar di layar gadget adalah kebenaran padahal itu hanya versi yang telah disaring, disesuaikan, dan dibungkus agar meyakinkan. Itulah yang disebut Baudrillard sebagai simulacrum, yakni tiruan yang tak lagi mewakili kenyataan tapi malah kita anggap kebenaran.
Contohnya ada di mana-mana. Kita membeli pakaian bukan karena nyaman, tapi karena cocok difoto. Kita memilih tempat makan bukan karena lapar, tapi karena tempat itu sedang ramai dibicarakan. Bahkan saat merasakan kesedihan, kita tergoda untuk membagikannya ke media sosial lengkap dengan pencahayaan dan kutipan yang estetik. Duka pun harus cantik agar layak dipercaya.
Dalam dunia semacam ini, kata “asli” jadi samar. Kita tak lagi yakin apakah suatu tempat enak karena memang enak, atau karena sudah dikatakan enak oleh seratus orang sebelum kita. Kita tak tahu lagi apakah kita benar-benar menikmati atau sekadar meniru kenikmatan orang lain yang lebih dulu memotretnya.
Dan itu membawa kita pada bentuk paling sederhana dari dunia semu ini: secangkir kopi, yang harganya bisa mencapai Rp50.000 bahkan lebih. Padahal, rasanya tak seistimewa yang dibayangkan. Yang dibeli memang bukan rasa kopinya, melainkan pengalaman yang dikurasi: suasana, pencahayaan, caption, dan “like” dari orang lain. Yang kita bayar sebenarnya bukan kopinya tapi ilusi nilai dan gengsinya. Dalam dunia hyper reality citra lebih penting daripada esensi.
Dan ini bukan hanya soal kopi. Dalam berbagai aspek kehidupan, kita makin terjebak dalam penciptaan citra yang terpisah dari realitas. Pesta pernikahan mewah, pakaian bermerek, gaya hidup digital, semuanya menyusun versi ideal tentang diri yang kadang jauh dari kenyataan. Anak muda bisa menghabiskan tabungan hanya untuk bergaya di kafe mahal, orang tua berutang demi membeli barang yang layak dipamerkan. Semua demi citra yang terlihat nyata di mata publik.
Yang mengejutkan, hyper reality tak mengenal kelas sosial. Baik kaya maupun yang hidup pas-pasan bisa terjebak dalam perburuan ilusi ini. Media sosial tidak hanya menjadi tempat berbagi cerita, tapi juga ladang menampilkan versi terbaik dari hidup penuh muslihat ini. Jadinya kita hidup bukan untuk mengalami tapi untuk terlihat mengalami.
Bagaimana keluar dari jebakan ini?
Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa kita sedang berada di dalamnya. Tidak semua yang tampak nyata itu sungguh-sungguh otentik. Keinginan kita membeli, bepergian, bergaya, dan membagikan semuanya bisa jadi bukan berasal dari dalam diri, melainkan dari tekanan luar yang dibentuk lingkungan dan algoritma digital. Kesadaran ini adalah titik awal untuk mengambil jarak dan mulai bertanya: “Apakah saya benar-benar membutuhkan ini?” atau “Apakah ini saya lakukan demi diri sendiri, atau demi dilihat orang?”
Kedua, kita bisa mulai melatih kepekaan untuk membedakan mana yang esensial dan mana yang semu. Tidak perlu membenci teknologi, tapi cukup tahu kapan kita sedang dikendalikan olehnya. Tidak harus anti-gaya hidup modern, tapi tahu kapan kita mulai menjadikan hidup sebagai etalase. Kita boleh menikmati kopi di kafe yang cantik, tapi tetap sadar bahwa itu hanya sebagian kecil dari kenyataan hidup kita—bukan esensinya.
Ketiga, kita perlu membangun kembali relasi yang otentik dengan dunia nyata, berbicara langsung tanpa kamera, merayakan kebersamaan tanpa unggahan, menikmati keheningan tanpa distraksi. Dalam dunia yang terlalu riuh oleh tampilan, diam dan hadir sepenuhnya adalah bentuk perlawanan yang paling radikal. Kadang, menatap mata seseorang lebih menyembuhkan daripada seribu komentar di layar.
Jean Baudrillard tidak sedang mengajak kita jadi pesimis atau menjauhi teknologi. Ia hanya mengingatkan bahwa dalam dunia yang penuh simulasi, menjaga nalar dan kesadaran menjadi satu-satunya jalan agar kita tidak kehilangan makna. Filsafat, dalam hal ini, bukan teori abstrak. Ia menjadi alat untuk melihat—dan menyaring—realitas yang dikemas begitu rapi dan memikat.
Sore itu, ketika kopi saya mulai dingin, saya putuskan untuk tidak memotret dan mengunggahnya. Saya ingin merasakan betul pahit dan hangatnya, sambil menatap langit yang perlahan berubah warna. Mungkin hanya itu yang tersisa dari realitas, yakni saat kita berhenti merekam dan mulai benar-benar mengalami.
Penulis: Farid Mustofa, Staf Pengajar Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada (UGM).



















