Ilusi Kopi Rp50 Ribu
Farid Mustofa
Sore itu saya duduk di kafe yang seminggu lalu viral. Letaknya tidak terlihat dari jalan raya. Harus melewati jalan sempit berbatu, menembus sela-sela kebun pisang dan pepohonan perdu untuk sampai. Tak ada papan nama besar. Hanya sebuah plang kecil dari kayu bekas, yang ditulis dengan cat tangan agar tampak lusuh. Tempatnya rapi, hangat, dan beraroma kayu basah. Meja-meja dari rotan dipadukan dengan bangku besi model vintage, tanaman gantung menjuntai dari langit-langit, dan cahaya matahari sore masuk dari sela-sela tirai linen. Udara sore mengendap tenang seperti ruang yang memang diciptakan bukan untuk ngobrol, melainkan untuk difoto.
Di sekeliling saya pengunjung berdatangan. Pasangan kekasih, sekelompok perempuan dengan dress warna tanah liat, seorang pria sendirian yang sibuk dengan kamera mirrorless-nya. Mereka bergantian memotret. Bukan hanya kopi atau makanan, tapi juga kursi kayu yang terkena cahaya, dinding bata yang retak cantik, atau bayangan daun mangga yang jatuh di atas meja. Ada yang belum menyentuh kopinya, tapi sudah memosting lima kali.
Saya duduk mengamati. Ikut tergoda meraih HP tapi saya urungkan. Saya mbatin “Apakah kita datang ke sini untuk minum kopi, atau untuk diakui bahwa kita minum kopi di sini? Apakah secangkir kopi ini punya rasa, atau hanya berfungsi sebagai latar kisah yang ingin kita tampilkan? Apakah ruang ini diciptakan untuk kenyamanan atau untuk menciptakan versi terbaik kita di depan kamera?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengendap lama, bahkan setelah kopi saya tinggal setengah dan matahari sudah bergeser. Saya teringat satu nama yang pernah menggumamkan kebenaran getir zaman ini. Jean Baudrillard, filsuf Prancis, yang jauh sebelum era Instagram dan TikTok, menyebut fenomena sore ini sebagai .



















