Ruchman Basori
Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (PUSPENMA) Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI
KOMITMEN meningkatkan mutu dan daya saing bangsa terus menerus dilakukan, melalui pelbagai cara, termasuk dalam bidang penelitian. Penelitian berfungsi untuk mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi dan penemuan baru, pengembangan ekonomi dan industri, mengembangkan kapasitas intelektual dan professional, menjadi landasan untuk pengambilan kebijakan publik, pemberdayaan masyarakat dan pemecahan masalah-masalah (problem solving).
Kementerian Agama berikhtiar secara serius untuk melahirkan sumber daya manusia (SDM) unggul dan berdaya saing untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Sebagaimana telah jamak dipahami, visi Indonesia Emas 2045 adalah menargetkan peningkatan pendapatan per kapita setara negara maju, pengurangan kemiskinan hingga nol persen, peningkatan daya saing SDM, serta penurunan intensitas emisi menuju Net Zero Emission.
Menurut The McKensey, Indonesia diprediksi akan mendapatkan bonus demografi, pas 100 tahun Indonesia Merdeka. Penduduk berusia produktif (15-64 tahun) akan lebih banyak daripada yang tidak produktif yaitu 0-15 tahun dan 64 tahun ke atas. Jika SDM tersebut mampu dikelola dengan baik maka akan menjadi berkah pembangunan, namun jika tidak akan menjadi malapetaka pembangunan.
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Bidang Riset berkolaborasi dengan Kementerian Agama untuk menggagas program riset untuk kalangan dosen Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) dan juga Ma’had Aly, yang diberi nama MoRA The AIR Funds, Riset Indonesia Bangkit. Tidak hanya untuk dosen-dosen di bawah binaan Ditjen Pendidikan Islam, namun juga yang berada dalam binaan Direktorat Jenderal Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.
MoRA The AIR Funds atau Ministry of Religious Affairs The Awakened Indonesia Research Funds Program, secara singkat dapat diterjemahkan dengan Pendanaan Riset Indonesia Bangkit Kementerian Agama.
Kata kunci menyambut Indonesia Emas 2045 dan era bonus demografi adalah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing. Program Pendanaan Riset Indonesia Bangkit dimaksudkan untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi dalam berbagai bidang seperti Sosial Humaniora, Sains dan Teknologi; Ekonomi Kreatif, Kesehatan dan Farmasi, Pelayanan Keagamaan, Pendidikan Dan Bahasa, dan Studi Agama
Pelaksanaan program MoRA The Air Funds sebagai program bergengsi untuk kalangan dosen PTK, ditangani oleh Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (PUSPENMA). Program ini merupakan terobosan penting dan menjadi landasan strategis untuk menyelesaikan problem-problem Keagamaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan berbasis riset.
Setidaknya, program ini memiliki empat tujuan utama: Pertama, riset berdampak langsung kepada masyarakat seperti dampak sosial, dampak ekonomi, dampak budaya, dan dampak pembangunan; Kedua, menjawab tema prioritas nasional seperti penurunan kemiskinan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, ekoteologi, kurikulum berbasis cinta, dan ekonomi umat; Ketiga, mendorong penguatan ekosistem dan kolaborasi riset seperti dengan Perguruan Tinggi Lainnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI); dan Keempat, peningkatan kualitas dan luaran bermutu yang dapat dijadikan bahan pengambilan kebijakan publik.
Pada periode 2024–2026, Kemenag mendapat amanah dana riset sebesar Rp. 150 miliar dari LPDP, masing-masing Rp50 miliar per tahun. Pada tahun anggaran 2024, dana tersebut telah memberikan manfaat untuk 47 tema penelitian atau Tim Peneliti dengan 201 orang periset dan berasal dari 20 PTK dan satu Fakultas Agama Islam (FAI) pada perguruan tinggi umum. Sementara pada tahun anggaran 2025, telah menggelontorkan 4 tema penelitian dengan 90 Periset, yang berasal dari 43 PTK. Sedangkan pada tahun anggaran 2026, direncanakan merekrut 120 tema penelitian yang diberikan kepada dosen PTK, Ma’had Aly dan Dosen Fakultas Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum se-Indonesia.
Para peneliti dilingkungan Kementerian Agama sudah tidak bisa beralasan lagi untuk tidak melakukan penelitian yang merupakan kewajiban dari tridharma perguruan tinggi, Pendidikan, penelitian dan pengabdian Masyarakat. Pemerintah melalui LPDP Kementerian Keuangan telah memberikan penganggaran yang cukup walau belum berlebih.
Semula dirumuskan empat klaster riset utama, yang menjadi fokus program penelitian ini, yaitu: (1). Sains dan Teknologi, termasuk pengembangan teknologi kesehatan, ketahanan pangan, energi, dan big data; (2). Sosial Humaniora, seperti pendidikan transformatif, demokrasi, identitas bangsa, dan budaya Keagamaan; (3). Ekonomi dan Lingkungan, dengan tema seperti ekonomi syariah, green economy, hingga pemberdayaan perempuan dalam UMKM.(4). Kebijakan Layanan Pendidikan dan Keagamaan, yang mencakup layanan pendidikan madrasah, pesantren, dan kebijakan moderasi beragama.
Dalam perkembangannya, pada tahun anggaran 2026 dikembangkan menjadi 7 tema utama, yaitu: Sosial Humaniora, Sains dan Teknologi; Ekonomi Kreatif, Kesehatan dan Farmasi, Pelayanan Keagamaan, Pendidikan dan Bahasa, serta Studi Agama. Hal ini untuk menjawab kebutuhan ragam dan langgam tema-tema riset pada Perguruan Tinggi Keagamaan.
Apa bedanya riset MoRA The AIR Funds dengan riset-riset lain yang selama ini dikembangkan pada Kementerian Agama? Pertama, MoRA The Air Funds menekankan pentingnya kolaborasi antar perguruan tinggi keagamaan, lembaga riset nasional dan internasional, serta dunia usaha dan industri (multi-helix collaboration);
Kedua, model riset ini diharapkan dapat menghasilkan inovasi yang aplikatif dan berdampak luas bagi masyarakat. Riset berdampak menjadi sangat penting agar sesenpun uang negara harus diptimalkan untuk mengembangkan Masyarakat, pembangunan dan kemajuan.
Ketiga, mendukung asta citra Presiden Prabowo-Gibran dan Asta Prioritas (Asta Protas) Nasaruddin Umar-Romo Muhammad Syafii. Asta cita meliputi: (1). Penguatan Ideologi dan Demokrasi, (2). Pertahanan dan Kemandirian Bangsa, (3). Lapangan Kerja dan Kewirausahaan, (4). Pembangunan SDM Unggul, (5). Hilirisasi dan Industrialisasi, (6). Pembangunan dari Desa, (7). Reformasi dan Penegakan Hukum dan (8). Keharmonisan Lingkungan dan Budaya.
Sedangkan Astra Protas yang dicanangkan Menteri Agama dan Wakil Menteri Agama adalah meliputi: (1) Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan; (2) Penguatan Ekoteologi; (3) Layanan Keagamaan Berdampak; (4) Mewujudkan Pendidikan Unggul, Ramah, dan Terintegrasi; (5) Pemberdayaan Pesantren; (6) Pemberdayaan Ekonomi Umat; (7) Sukses Haji; dan (8) Digitalisasi Tata Kelola.
Keempat, alokasi anggarkan yang degelontorkan lebih tinggi daripada riset-riset sebelumnya baik di Kementerian Agama maupun pada PTK. Dukungan dana antara Rp500 juta hingga Rp2 miliar untuk nsatu tema riset. Diperlukan perubahan mindset para periset dari pendekatan individual menjadi kolaboratif, dari satu disiplin ilmu ke interdisipliner, dan berorientasi pada kemaslahatan public. Dengan kata lain penelitian harus berdampak pada pengembangan masyarakat, dan social ekonomi umat.
Kelima, waktu penelitian dan tahun anggaran sangat fleksibel. Penelitian dapat dilaksanakan dalam waktu satu tahun (singe years) maupun 2–3 tahun (multy years) dan perhitungan tahun pelaksanaan tidak dimulai pada bulan Januari-Desember, tetapi disesuaikan kapan ditandatanginya kontrak.
Melalui MoRA The Air Funds diharapkan mampu meningkatkan ekosistem riset dikalangan dosen PTK, sekaligus mendorong agar para dosen melakukan kolaborasi. Para intelektual (periset), bukan manusia yang di menara gading, sebagaimana kritik Antonio Gramsci, tetapi harus berada di akar rumput. Pada saat yang sama harus mampu bekerjasama menyelesaikan tugas-tugas intelektual dan kemanusiaan.
Rumitnya soal kemiskinan dan bagaimana mengatasinya, harus berbasis riset, agar terukur dan sistematis mengurai problem kemiskinan di negeri ini. Kekerasan seksual di lembaga pendiidkan yang selama ini menjadi masalah bangsa juga harus diselesaikan dengan dasar penelitian sebagai pengambilan keputusan. Pun dalam masalah sains dan teknologi serta farmasi dan Kesehatan yang menjadi barang baru bagi disiplin ilmu-ilmu pada PTK, terutama setelah alih status kelembagaan dari IAIN menjadi UIN.
Riset berdampak dengan demikian, menjadi output sekaligus komitmen bagi para dosen PTK. Tentu menjadi PR besar bagi para dosen UIN, IAIN, STAIN, PTKIS dan juga PTK pada Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu. Tema membumikan ilmu-ilmu keislaman agaknya masih sangat relevan dengan upaya riset berdampak.
Direktorat Jenderal terkait, harus memperkuat kapasitas dan kualitas para dosen, melalui workshop, pendidikan dan pelatihan intensif, agar kapasitas riset meningkat. Disain riset dengan anggaran besar harus mulai menjadi tradisi dikalangan para dosen PTK, yang juga harus diimbangi dengan merancang anggaran dengan bodyriset yang besar.
Penulis memberikan apresiasi atas rencana Direktorat Jenderal Pendidikan Islam untuk melakukan program pemagangan internasional di lembaga riset ternama seperti Alexander von Humboldt Foundation (Jerman), INRAE (Prancis), dan CSIRO (Australia). Melalui pemagangan ini, dosen akan memahami kultur riset global, jaringan ilmiah internasional, dan metodologi lintas disiplin yang relevan dengan pengembangan studi keagamaan di Indonesia.
Mengakhiri tulisan ini, MoRA The AIR Funds diharapkan menjadi katalisator bagi transformasi PTKI di Indonesia, dari program riset local-nasional menuju riset global yang berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional dan peradaban dunia. Wallahu a’lam bi al-shawab.