Santri, Susu, dan Sebuah Layar yang Hilang Cermin
Ahmad Muhibi
Pagi di Pesantren
Pagi di pesantren datang dengan kesunyian yang jujur. Dari surau kecil terdengar lantunan ayat suci, berpadu dengan aroma kopi hitam dan suara sandal yang diseret di tanah lembap. Para santri menjemur sarung, menyapu halaman, menimba air, lalu berbaris menuju kelas.
Tak ada sorotan kamera, tak ada tepuk tangan, hanya disiplin, kesabaran, dan keikhlasan yang tumbuh pelan-pelan.
Namun di luar pagar pesantren, realitas sosial bergerak dengan cara yang berbeda.
Belum lama ini, sebuah program televisi menampilkan kehidupan santri dalam balutan humor.
Adegan seorang santri yang minum susu sambil jongkok ditampilkan sebagai bagian dari hiburan. Sebagian penonton mungkin tertawa, rating acara meningkat, sementara para santri memaknainya dengan heran, bukan karena malu, tetapi karena merasa makna kesahajaan mereka tidak sepenuhnya dipahami.
Kesederhanaan yang mereka jaga berubah menjadi bahan komedi. Di situ, cermin kebudayaan kita retak, yang tampak di layar bukan kenyataan, melainkan bayangan yang dipelintir.
Menertawakan yang Tak Dipahami
Dalam Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (1984), sosiolog Prancis Pierre Bourdieu menulis: “Taste classifies, and it classifies the classifier.” Kutipan ini berarti bahwa selera bukan hanya alat untuk menilai sesuatu, tetapi juga cermin yang menyingkap siapa yang sedang menilai.
Ketika seseorang menertawakan kesederhanaan santri, tawa itu sesungguhnya lebih banyak menceritakan si penonton daripada objek yang ditertawakan. Bourdieu menjelaskan bahwa di balik setiap tawa, ada modal budaya (cultural capital) yang bekerja.



















