Puzzle Islam Tradisionalis Sedang Dimainkan: Siapa Ambil Keuntungan?
Prof Dr KH Muhammad Ishom, M.A.,
Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A.
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap Islam tradisionalis di Indonesia tampak seperti sebuah puzzle besar yang tengah disusun oleh banyak tangan, dengan kepingan-kepingan yang tidak selalu cocok satu sama lain.
Tradisi panjang yang dibangun oleh para ulama dari pesantren dan jejaring keilmuan lintas generasi mengalami guncangan dari berbagai arah. Perubahan sosial, derasnya arus media digital, dan munculnya aktor-aktor baru dengan kepentingan yang tak selalu sejalan membuat ruang tradisionalis tidak lagi tenang seperti dahulu.
Salah satu dinamika yang muncul adalah ketegangan antara kelompok yang menguatkan peran habaib dalam kehidupan keagamaan dan kelompok lain yang mengkritisi posisi tersebut. Di media sosial terutama, perdebatan antara pro-habaib dan kelompok yang dituding anti-Ba’alawi menjadi ramai, seringkali tidak lagi bertumpu pada adab keilmuan, tetapi pada polarisasi identitas. Padahal, hubungan antara habaib dan para kiai pesantren sepanjang sejarah umumnya harmonis dan saling menghormati.



















