Search

Cara Orang Tua Berbicara dengan Anak tentang Konflik dan Perang

JAKARTA, (ERAKINI) — Perang udara antara Amerika Serikat bersama Israel dengan Iran, kini memicu ketegangan global. Dampaknya, banyak anak-anak mulai mendengar kabar tentang konflik dan perang yang menakutkan itu. 

Bagi orang tua, membicarakan konflik atau perang dengan anak bisa terasa sulit. Namun, bicara tentang konflik dan perang harus dilakukan dengan tenang, jujur, dan menekankan rasa aman, sambil membatasi paparan berita yang berlebihan agar anak tetap nyaman dan terlindungi.

Dikutip dari abcNews, Selasa (3/3/2026), berikut beberapa panduan untuk membantu anak memahami situasi tanpa menimbulkan rasa takut berlebihan.

1. Ketahui Apa yang Anak Sudah Tahu
Psikolog anak klinis Dr Deidre Donaldson dari Gateway Healthcare dan Brown University Health, Providence, Rhode Island, menekankan pentingnya berkomunikasi untuk mengetahui apa yang anak dengar dan rasakan.

“Ada banyak cara anak bisa mengetahui hal ini… Bersiaplah dengan rencana tentang apa yang ingin disampaikan, apa yang ingin anak ketahui, dan tetap sederhana agar mereka tidak kewalahan,” ujar Donaldson.

Orang tua juga disarankan memantau informasi yang diterima anak dari sekolah atau guru, agar pesan yang disampaikan konsisten.

2. Gunakan Bahasa yang Sesuai Usia dan Terbuka
Donaldson menyarankan penggunaan bahasa terbuka dan sederhana sesuai usia anak. Pertanyaan ringan seperti, “Bagaimana harimu? Apa yang kamu pikirkan hari ini?” dapat membantu anak mengungkapkan perasaan mereka, termasuk hal-hal yang mereka dengar tentang konflik di dunia.

Anak di bawah usia lima tahun biasanya kurang menyadari berita dan tidak memahami kompleksitas situasi. Oleh karena itu, orang tua perlu menyesuaikan penjelasan.

3. Terapkan 4 Prinsip
Donaldson menyarankan agar mengedepankan empat strategi utama, yakni: 
- Empati: Dengarkan anak terlebih dahulu dan berikan perhatian penuh.
- Penjelasan: Berikan penjelasan berbasis fakta dengan jumlah informasi minimal agar anak tidak kewalahan.
- Paparan: Batasi paparan anak terhadap berita konflik atau perang.
- Penekanan pada keamanan: Yakinkan anak bahwa mereka aman dan memiliki tempat yang aman untuk mengekspresikan perasaan.

“Anak-anak hari ini terpapar banyak informasi, sehingga pembatasan itu membantu. Orang tua juga bisa menyeimbangkan dengan hal-hal positif di masyarakat atau dunia yang mempromosikan keselamatan, interaksi positif, dan kebaikan,” kata Donaldson.

Untuk remaja, percakapan bisa lebih panjang dan mendalam karena mereka cenderung terpapar lebih banyak informasi melalui sekolah, media, dan lingkungan sosial.

4. Dorong Anak Mengekspresikan Perasaan
Setelah memahami apa yang mereka ketahui, tekankan bahwa anak bisa berbagi perasaan secara terbuka di lingkungan yang aman, misalnya di rumah, bersama teman, atau keluarga. Kadang anak juga membutuhkan ruang pribadi untuk merasa aman dan nyaman.

Waspadai Tanda-Tanda Stres 
Perhatikan perubahan perilaku anak, seperti gangguan tidur, sering terbangun di malam hari, atau gejala fisik baru seperti sakit perut atau sakit kepala.

Jika perubahan ini berlangsung lebih dari tiga minggu atau semakin memburuk, Donaldson menyarankan untuk mencari bantuan melalui sekolah, dokter anak, atau sumber daya terpercaya.