Atlet anggar asal Amerika Serikat (AS) Ibtihaj Muhammad. (Foto: Istimewa)
JAKARTA, (ERAKINI) - Atlet anggar asal Amerika Serikat (AS) Ibtihaj Muhammad membuat sejarah pada tahun 2016 dengan menjadi atlet AS pertama yang berkompetisi di Olimpiade dengan mengenakan jilbab.
Di Olimpiade Rio di Brasil, ia menjadi orang Amerika pertama yang tidak hanya berkompetisi dalam hijab, tetapi juga menang dan meraih medali. Pada 2012, Ibtihaj dinobatkan sebagai Muslim Sportswoman of the year.
“Banyak orang tidak percaya bahwa wanita Muslim memiliki suara atau bahwa kami berpartisipasi dalam olahraga,” kata Muhammad dalam wawancara dengan USA Today.
“Dan itu bukan hanya untuk menantang kesalahpahaman di luar komunitas Muslim, tetapi di dalam komunitas Muslim. Saya ingin melanggar norma budaya.”
Prestasi Ibtihaj ini mendorong Mattel membuat boneka dari karakter Ibtihaj dan menjadi boneka pertama dalam sejarah Barbie dengan jilbab. Menurut Guardian, Ibtihaj adalah "Salah satu simbol terbaik melawan intoleransi yang pernah dimiliki Amerika".
Ibtihaj Muhammad tidak mencapai prestasi bersejarah itu dengan mudah. Butuh kerja keras dalam menentang diskriminasi yang dia alami dalam hidup, baik sebagai atlet maupun muslimah.
Ibtihaj merupakan atlet kelahiran New Jersey, tepatnya di Maplewood, AS. Ibtihaj besar di pinggiran Kota New York dan keluarganya adalah satu-satunya keluarga muslim di lingkungannya.
Mengenakan hijab adalah hal biasa di dalam keluarganya. Ibtihaj memakai hijab sejak kecil. Bahkan, ketika duduk di sekolah dasar, dia harus menjelaskan apa itu hijab kepada teman sekelasnya.
Ibtihaj mengakui menjadi minoritas dan memakai hijab di usia yang begitu muda memberikan beban yang cukup berat untuknya. "Pada usia itu, Anda ingin menyesuaikan diri," kata Ibtihaj Muhammad dikutip dari Wbur.
Hijab juga yang jadi alasan bagi Ibtihaj Muhammad mengenali, menekuni, hingga mencintai olahraga anggar yang membuat namanya kian menjulang.
Wanita berusia 42 tahun ini mengenal anggar ketika orang tuanya sedang mencarikan olahraga yang cocok untuk anaknya tersebut. Olahraga yang tidak perlu membuatnya mengganti seragam, karena Ibtihaj mengenakan hijab.
"Anggar secara unik mengakomodasi keyakinan agama saya. Jadi, sepertinya ini adalah keputusan yang mudah untuk belajar olahraga," ucap Ibtihaj menurut laporan Hypebae.
Ibtihaj sangat menyukai anggar. Karena olahraga itu tidak membuatnya merasa berbeda dengan yang lain. Seragam anggar yang menutup semua bagian tubuh termasuk hijab menempatkan Ibtihaj setara dengan anak-anak lainnya.
Namun jalan Ibtihaj tidak mudah, serangan anti-muslim dan diskriminasi itu juga makin dia rasakan saat tumbuh dewasa. Termasuk ketika sukses menembus timnas anggar Amerika Serikat pada 2010.
Ketika berada di timnas anggar Amerika Serikat anak dari pasangan Eugene Muhammad dan Denise ini sempat merasa terpinggirkan dengan tidak mendapat kepercayaan pelatih dan tidak diinginkan rekan-rekan setimnya hanya karena warna kulit dan agama.
Tak mau pesimis, saat itu juga Ibtihaj berpikir, dengan masuk timnas anggar Amerika Serikat, ia merasa memiliki momen guna mengubah pandangan banyak tentang kaum muslim dan juga Afrika-Amerika di cabor tersebut.
"Untuk seorang wanita Afrika-Amerika, naik peringkat dan juga memakai hijab, untuk alasan apa pun, tidak pernah diterima dengan baik. Dan secara pribadi, saya katakan menentang hal ini. Mengapa orang-orang terintimidasi oleh hijab saya atau terintimidasi oleh etnis saya, dan mengapa kita tidak bisa hidup serta punya kesempatan yang sama?" tutur Ibtihaj menambahkan.
Ibtihaj mengabaikan semua diskriminasi tersebut. Ia terus berupaya menjadi penyemangat untuk dirinya sendiri berlandaskan keimanan sebagai seorang muslimah. Saat libur latihan, ia mengisi hari-harinya dengan berdoa.
Menjadi atlet minoritas tidak membuat Ibtihaj berpikir membandingkan diri dengan orang lain. Menurutnya, pesaing terbesar adalah diri sendiri. Karena itu semasa di timnas anggar Ibtihaj merasa harus tampil luar biasa untuk bisa diterima.
Keteguhan Ibtihaj berlatih dan beragama itu juga yang membawanya ke jalan kesuksesan. Ibtihaj gagal di nomor sabel tunggal putri setelah tersingkir di babak 16, tetapi ia meraih perunggu di nomor tim sabel putri usai AS mengalahkan Italia 45-30 di Olimpiade 2016.
Prestasi itu tidak saja membuat Ibtihaj jadi atlet muslim Amerika Serikat pertama yang mengenakan hijab di Olimpiade, tetapi juga atlet muslim AS pertama yang meraih medali di multievent empat tahunan tersebut. "Saya tidak pernah melupakan momen ini," jelas Ibtihaj dikutip dari LA Times.
Prestasi yang diukirnya di cabang olahraga membuat Ibtihaj kini menjabat di dewan untuk Inisiatif Pemberdayaan Perempuan dan Anak Perempuan Melalui Olahraga Departemen Luar Negeri AS , yang mendorong anak perempuan di seluruh dunia untuk mencapai potensi mereka.
Ibtihaj mulai menekuni olahraga anggar pada usia 13 tahun. Ia terlibat dengan Peter Westbrook Foundation, sebuah program yang didirikan oleh juara anggar Westbrook untuk membawa olahraga tersebut ke komunitas-komunitas yang kurang mampu di wilayah New York.
Ibtihaj memiliki sejumlah alasan kenapa memilih olahraga anggar. Seragamnya tidak hanya menutupi seluruh tubuh, tetapi juga memungkinkannya untuk bertanding tanpa terlihat dalam balutan jilbabnya (penutup tradisional untuk rambut dan leher yang dikenakan oleh wanita Muslim).
Ia juga melihat olahraga anggar sebagai jalur menuju kesempatan akademis, dengan harapan untuk bertanding di tingkat perguruan tinggi. Selain itu Ibtihaj juga menganggap gagasan tentang olahraga individu sangat menarik. Seperti yang ia katakan, "Saya menyukai gagasan untuk bertanggung jawab sepenuhnya atas hasil pertandingan atau permainan."
Tahun 2010, dirinya mulai bergabung di Timnas Anggar AS. Selama kariernya di anggara, Ibtihaj menorehkan banyak kemenangan dalam tujuh tahun di tim nasional AS. Tim anggara AS memenangkan emas di Kejuaraan Dunia 2014 dan Pan American Games 2011 dan 2015, dan perunggu di Kejuaraan Dunia 2011-2013 dan 2015.
Berbekal prestasi itu, Ibtihaj mendapatkan tempat di tim anggar AS yang berlaga di Olimpiade tahun 2016. Hal itu menjadikannya atlet Amerika pertama yang berkompetisi di Olimpiade sambil mengenakan jilbab, suatu prestasi yang menarik perhatian besar.