Search

Prof Quraish Shihab: Keseimbangan Kata dalam Al-Qur’an Ajarkan Umat Hidup Seimbang

JAKARTA, (ERAKINI) - Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) sekaligus penulis Tafsir Al-Misbah, Prof Muhammad Quraish Shihab menyebut bahwa keseimbangan penggunaan kata dalam Al-Qur’an mengandung pesan agar manusia menjalani kehidupan secara seimbang.

Menurut Prof Quraish Shihab, keseimbangan tersebut selaras dengan alam semesta yang diciptakan Tuhan secara teratur dan harmonis.

“Keseimbangan kata-kata yang digunakan Al-Qur’an itu mengajarkan kita agar kita pun hidup seimbang. Memang Tuhan menciptakan alam raya ini seimbang,” ujar Prof Quraish Shihab saat menyampaikan tausiyah dalam peringatan Nuzulul Qur’an yang dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026) malam.

Prof Quraish Shihab mencontohkan keteraturan alam melalui peredaran matahari dan bulan yang berjalan sangat presisi. Menurutnya, hubungan keduanya menunjukkan harmoni yang menarik.

Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo ini menjelaskan bahwa bulan berada pada posisi berhadapan atau oposisi dengan matahari. Namun, dalam kondisi tersebut bulan justru memanfaatkan cahaya matahari sebagai sumber sinarnya.

“Bulan menyerap dari matahari, sinar. Kemudian dia pantulkan sinar itu ke bumi. Bisakah kita meniru bulan? Sebanyak yang dia terima, sebanyak itu pula yang dia beri,” kata dia.

Lebih lanjut, ayah jurnalis ternama Najwa Shihab ini mengatakan bahwa manusia juga diciptakan dengan keseimbangan, baik dari sisi jasmani maupun rohani. Hal itu menurutnya sejalan dengan keteraturan yang tampak dalam peredaran matahari dan bulan.

“Itu semua dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa hidup hendaknya hidup yang seimbang. Seimbang jasmani dan rohani,” tuturnya.

Prof Quraish Shihab menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat serta dalam berbagai aspek kehidupan lainnya.

“Dan seimbang segala sesuatu,” ujar ayah jurnalis Najwa Shihab tersebut.

Dalam kesempatan itu, prof Quraish Shihab juga menyinggung ketertarikannya terhadap Al-Qur’an, khususnya karena ketelitian kitab suci tersebut dalam memilih kata-kata yang mampu melahirkan beragam makna.

Prof Quraish Shihab mencontohkan ayat yang menjelaskan kewajiban berpuasa dalam Al-Qur’an:


فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ 

Menurutnya, penggalan ayat tersebut memiliki setidaknya dua makna. Makna pertama adalah siapa di antara umat Islam yang berada di tempat domisilinya dan melihat bulan, maka ia wajib berpuasa. Makna kedua adalah siapa yang mengetahui datangnya bulan Ramadhan melalui pengetahuan atau informasi yang sahih, maka ia juga wajib berpuasa.

Yang pertama dipahami sebagai melihat bulan secara langsung dengan mata kepala, sedangkan yang kedua melalui pengetahuan atau perhitungan. Prof Quraish Shihab menegaskan bahwa kedua pemaknaan tersebut sama-sama benar meskipun berbeda.

Menurutnya, perbedaan tersebut justru menjadi pelajaran penting yang ingin disampaikan Al-Qur’an kepada umat manusia.

“Allah ingin mengajarkan kita bahwa perbedaan itu adalah suatu keniscayaan. Tetapi perbedaan tidak perlu menimbulkan pertentangan,” katanya.

Prof Quraish Shihab mengungkapkan bahwa perbedaan dalam penentuan awal puasa atau hari raya juga bisa terjadi. Namun, hal itu tidak semestinya menimbulkan konflik di tengah masyarakat.

“Kalau kemarin kita berbeda dalam berpuasa, terbuka kemungkinan yang tidak kecil kita pun akan berbeda dalam berlebaran. Tapi perbedaan sama sekali tidak menimbulkan pertentangan,” ujar dia.

Menurut Prof Quraish Shihab, semangat menerima perbedaan tersebut sejalan dengan falsafah bangsa Indonesia.

“Perbedaan yang dikehendaki Al-Qur’an itu adalah sama dengan falsafat bangsa kita, Bhinneka Tunggal Ika,” tuturnya.