Bahagia Itu Sederhana, Ada di Hati
Indah S. Amalia
Setiap orang pasti memiliki harapan ingin hidup bahagia. Definisi bahagia pun sangatlah subjektif, karena setiap orang memiliki pandangan dan pengalaman yang berbeda-beda atas tujuan itu.
Ada yang beranggapan bahagia itu kaya, tenar, punya jabatan. Dengan anggapan itu, mereka akan berupaya mengejar dengan apapun caranya agar berhasil.
Namun faktanya anggapan itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Di media sosial misalnya, sering kita lihat banyak orang yang telah memiliki kekayaan melimpah namun tidak kelihatan bahagia.
Justru dengan kekayaan itu, mereka menderita. Sejumlah miliarder atau pesohor malah mengakhiri hidup mereka dengan cara tragis meskipun sudah memiliki kekayaan dalam jumlah fantastis.
Lantas bagaimana cara mewujdkan Bahagia itu? Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah, kebahagiaan sejati itu tidak dapat dicapai melalui materi atau kenikmatan duniawi semata, namun terletak pada hubungan yang baik dengan Allah dan sesama manusia.
Demikian menurut Charles Spurgeon, pengkhotbah Baptis Partikula terkemuka dari Inggris, kebahagiaan bukan diukur seberapa banyak dari yang kita punya, melainkan seberapa banyak yang kita nikmati.
Semua agama mengajarkan hal yang sama tentang hakikat bahagia. Sekali lagi, Bahagia itu ukurannya bukan sekadar materi keduniawiaan tapi lebih pada bagaimana cara kita untuk menikmatai apapun atas apa yang telah kita miliki. Dengan bahasa yang lebih sederhana, bahagia itu bisa mudah didapat jika sering bersyukur.

















