Serangan brutal terbaru di Gaza, Palestina, menewaskan sedikitnya 82 orang di tengah dimulainya pembahasan perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Qatar. Foto: Anadolu via Al Jazeera
JAKARTA, (ERAKINI) - Serangan brutal terbaru di Gaza, Palestina, menewaskan sedikitnya 82 orang. Serangan ini berlangsung di tengah dimulainya pembahasan perundingan gencatan senjata antara Israel dan di Qatar.
Al Jazeera melaporkan, pada Minggu (6/7), sedikitnya 39 orang tewas di Gaza City. Serangan tengah malam di lingkungan Sheikh Radwan juga menjebak para korban di bawah reruntuhan bangunan. Para saksi menggambarkan pemandangan bak kiamat, ketika warga sekitar mencoba mengumpulkan potongan-potongan tubuh korban, termasuk anak-anak.
Mahmoud al-Sheikh Salama, salah satu penyintas dari serangan itu, mengatakan bahwa serangan terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat saat ia sedang tidur.
“Kami mendengar ledakan keras, dan tak lama kemudian, satu ledakan lagi. Kami bergegas ke lokasi. Banyak orang terjebak di bawah reruntuhan, empat keluarga, jumlahnya cukup banyak,” kata Salama.
“Kami mencoba mencari penyintas dan berhasil mengeluarkan dua orang hidup-hidup dari bawah reruntuhan setelah tiga jam berjuang. Kami dapat dua orang selamat, sisanya gugur dan masih terperangkap,” tambahnya.
Jurnalis Al Jazeera Hani Mahmoud melaporkan dari Gaza City, menyebut eskalasi militer Israel saat ini merupakan “pengingat yang mengerikan dan brutal” terhadap minggu-minggu awal perang, karena intensitas dan skala setiap serangan yang begitu besar.
“Dalam kurun dua jam, kami menghitung sedikitnya tujuh serangan udara di seluruh Jalur Gaza,” kata Mahmoud. “Sebuah dapur umum komunitas di bagian utara Deir el-Balah juga diserang, menewaskan tiga orang termasuk operator utamanya,” lanjutnya.
Selain di Gaza City, sumber medis dari rumah sakit melaporkan bahwa sedikitnya sembilan warga Palestina tewas akibat tembakan tentara Israel di dekat pusat distribusi bantuan yang dioperasikan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sebuah organisasi yang didukung AS dan Israel.
Lima orang juga dilaporkan tewas di dekat Koridor Netzarim, yang berada di selatan Gaza City dan membelah wilayah Gaza menjadi dua. Kementerian Kesehatan Palestina menyebutkan bahwa pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya 743 warga Palestina di lokasi-lokasi yang dikelola GHF sejak akhir Mei.
GHF mendapat banyak kecaman setelah muncul berbagai laporan bahwa kontraktornya, serta pasukan Israel, melepaskan tembakan ke arah warga yang tengah mencari bantuan. Dua kontraktor asal Amerika mengalami luka ringan pada Sabtu dalam serangan terhadap salah satu lokasi bantuan.
“Serangan itu, berdasarkan informasi awal dilakukan oleh dua pelaku yang melempar dua granat ke arah warga Amerika, terjadi setelah distribusi yang sebetulnya berlangsung lancar dan aman, yang mana ribuan warga Gaza menerima bantuan makanan,” kata pernyataan GHF.
Amerika Serikat pada Sabtu menyalahkan Hamas atas serangan itu. Namun, Kantor Media Pemerintah Gaza menolak tuduhan tersebut.
“Kami dengan tegas dan tanpa keraguan menolak klaim dari Departemen Luar Negeri AS yang menuduh perlawanan Palestina melempar bahan peledak ke personel Amerika yang beroperasi di lokasi yang dijalankan oleh yang disebut sebagai ‘Gaza Humanitarian Foundation – GHF’,” tulis mereka dalam pernyataan resmi.
Perundingan Dimulai
Sementara itu, perundingan tidak langsung antara Israel dan Hamas mengenai kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza telah dimulai di Qatar.
“Negosiasi saat ini membahas mekanisme pelaksanaan dan pertukaran sandera, dan posisi kedua pihak sedang disampaikan melalui mediator,” ujar seorang pejabat anonim kepada kantor berita AFP.
Presiden AS Donald Trump pada Minggu mengatakan bahwa ada “peluang besar” untuk tercapainya kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera dengan Hamas dalam minggu ini, karena prosesnya sudah mendekati akhir.
Trump menyebut kesepakatan tersebut bisa mencakup pembebasan cukup banyak sandera. Ia dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin ini di Gedung Putih.
Sementara itu, sebelum terbang ke Washington DC, Netanyahu juga menyatakan keyakinannya bahwa diskusinya dengan Trump akan membantu mendorong kemajuan dalam perundingan kesepakatan Gaza.
“Saya percaya diskusi dengan Presiden Trump dapat membantu menghasilkan kemajuan nyata,” katanya, seraya menegaskan tekadnya untuk memastikan kembalinya para sandera dan menghilangkan ancaman Hamas terhadap Israel.
Namun, sejumlah analis menilai Netanyahu ingin melanjutkan perang balasan terhadap Gaza demi meraih keuntungan politik, termasuk untuk menggugurkan kasus hukum yang tengah menjeratnya di Israel serta membangun kembali dukungan rakyat demi mempertahankan posisinya sebagai pemimpin negara.
Netanyahu sedang menjalani proses peradilan atas tuduhan korupsi dan masih banyak dipersalahkan masyarakat Israel atas kegagalan keamanan yang menyebabkan serangan Hamas yang mematikan pada 7 Oktober 2023.
“Israel dan Netanyahu tidak benar-benar menginginkan gencatan senjata,” ujar Adnan Hayajneh, profesor hubungan internasional di Universitas Qatar, seraya menyebut peluang terjadinya gencatan senjata sangat kecil.
Kata dia, Apa yang diinginkan Israel sudah jelas, yakni tanah tanpa penduduk. “Jadi, Palestina hanya diberikan tiga pilihan... mati kelaparan... dibunuh... atau meninggalkan tanah mereka. Tapi sejauh ini, warga Palestina telah membuktikan bahwa mereka tidak akan meninggalkan tanah mereka, apa pun yang terjadi,” tukasnya.