Warga Palestina berjalan melewati bangunan-bangunan yang hancur di Kota Gaza pada 12 Oktober 2025. UNDP memperkirakan bahwa perang Israel-Hamas yang berlangsung selama dua tahun telah menghasilkan setidaknya 55 juta ton puing. (Foto: AFP).
JENEWA, (ERAKINI) – Komitmen awal dari sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat (AS), negara-negara Arab, dan beberapa negara Eropa menunjukkan sinyal positif terhadap pendanaan pembangunan kembali Gaza yang diperkirakan membutuhkan anggaran mencapai USD70 miliar atau sekitar Rp1.159 triliun.
Hal ini diungkapkan oleh pejabat senior dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) dalam konferensi pers di Jenewa, Selasa (14/10/2025).
“Kami telah menerima sinyal kuat dan respons yang menggembirakan,” kata Jaco Cilliers, perwakilan UNDP, kepada para jurnalis.
Meski tidak membeberkan rincian lebih lanjut, Cilliers menambahkan bahwa konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas selama dua tahun terakhir telah meninggalkan dampak destruktif besar, termasuk sekitar 55 juta ton puing bangunan.
Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan turut menyuarakan dukungan bagi proses rekonstruksiGaza. Ia berencana menggandeng negara-negara Teluk, AS, dan Eropa untuk membiayai proyek pemulihan pascakonflik, terutama dalam konteks kesepakatan gencatan senjata terbaru yang telah disepakati.
Dalam pernyataannya kepada awak media saat dalam perjalanan pulang dari Sharm El-Sheikh, Mesir, Erdogan menegaskan bahwa keputusan sebagian negara Barat yang mulai mengakui Palestina sebagai negara merupakan pijakan penting menuju implementasi solusi dua negara.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dirinya akan mengambil keputusan sendiri terkait solusi jangka panjang bagi konflik Israel-Palestina, sembari menegaskan akan tetap berkoordinasi dengan negara-negara sekutu dan mitra regional.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One, setelah kembali dari kunjungan singkat ke Timur Tengah pada Senin. Dalam kunjungan tersebut, ia menghadiri penandatanganan deklarasi gencatan senjata Gaza, yang merupakan bagian dari upaya internasional mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir.
"Ada yang mendukung solusi satu negara, ada pula yang mendukung dua negara. Kita lihat saja nanti. Saya akan mengambil keputusan berdasarkan apa yang saya anggap benar," ujar Trump.
"Tapi tentu saya tidak akan berjalan sendiri. Kita akan terus berkoordinasi dengan negara-negara lain," imbuhnya.
Trump belum secara eksplisit menyatakan dukungan pada satu opsi tertentu—apakah solusi dua negara, yang selama ini menjadi pendekatan dominan dalam diplomasi internasional, atau solusi satu negara, yang dianggap kontroversial karena berpotensi menimbulkan ketegangan baru di kawasan.
Hingga kini, sekitar tiga perempat dari 193 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengakui kemerdekaan Palestina, yang dideklarasikan secara sepihak pada tahun 1988 oleh para pemimpin Palestina di pengasingan.
Namun, AS, yang dikenal sebagai sekutu utama Israel, masih menolak pengakuan resmi terhadap negara Palestina. Bahkan, Washington secara terbuka mengkritik langkah beberapa sekutu utamanya seperti Inggris dan Kanada yang baru-baru ini mengambil posisi mendukung pengakuan tersebut.