Yasser Arafat, 5 tahun, seorang anak pengungsi Palestina yang menurut petugas medis menderita kekurangan gizi akut parah, duduk di depan tenda keluarganya di sebuah kamp pengungsian di Khan Younis, Gaza selatan. (Foto: Reuters).
GAZA, (ERAKINI) - Situasi kesehatan di Jalur Gaza memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan terjadinya kelangkaan parah obat-obatan, alat medis, serta perlengkapan laboratorium, terutama pada layanan gawat darurat. Krisis ini terjadi di tengah pembatasan ketat dan dampak perang genosida yang telah berlangsung lebih dari dua tahun terhadap rakyat .
Melansir Al Jazeera, Kementerian Kesehatan dalam pernyataan resminya pada Minggu (21/12/2025) menyebut kekurangan pasokan medis telah menghambat layanan diagnostik dan pengobatan di hampir seluruh fasilitas kesehatan. Para tenaga medis di Gaza sejak lama menyuarakan kesulitan menyelamatkan pasien akibat larangan masuknya obat-obatan dan peralatan vital oleh Israel. Selama agresi berkepanjangan tersebut, hampir seluruh rumah sakit dan pusat kesehatan di Gaza menjadi sasaran serangan, dengan sedikitnya 125 fasilitas kesehatan rusak, termasuk 34 rumah sakit.
Data terbaru menunjukkan kondisi yang sangat kritis. Sebanyak 321 jenis obat esensial benar-benar habis, setara dengan 52 persen dari total daftar obat penting. Sementara itu, 710 item bahan habis pakai medis juga kosong, mencerminkan 71 persen kekurangan, dan pasokan untuk tes laboratorium serta bank darah mengalami defisit hingga 59 persen.
Kekurangan paling fatal terjadi pada layanan gawat darurat, khususnya cairan infus penyelamat nyawa, antibiotik intravena, dan obat pereda nyeri. Kementerian memperingatkan, krisis ini berpotensi menyebabkan 200.000 pasien kehilangan akses layanan darurat, 100.000 pasien tidak dapat menjalani tindakan bedah, serta 700 pasien kehilangan perawatan intensif.
Selain itu, layanan kesehatan khusus seperti dialisis ginjal, onkologi, bedah jantung terbuka, dan ortopedi juga mengalami kelumpuhan akibat minimnya pasokan. “Menghadapi angka-angka yang sangat mengkhawatirkan ini, ditambah masuknya truk medis ke Gaza yang kini kurang dari 30 persen dari kebutuhan bulanan, Kementerian Kesehatan mendesak seluruh pihak terkait untuk memikul tanggung jawab penuh dan segera melakukan intervensi darurat,” tegas pernyataan tersebut.
Meski gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat mulai berlaku sejak 10 Oktober, Israel dinilai terus melanggar kesepakatan dengan Hamas dengan tidak mengizinkan masuknya bantuan medis sesuai jumlah yang disepakati. Pelanggaran ini memperparah kondisi darurat kesehatan yang disebut Gaza sebagai krisis berkepanjangan dan kritis
Di tengah kelangkaan obat, sekitar 1.500 anak Palestina masih menunggu pembukaan perbatasan agar dapat dirujuk dan mendapatkan perawatan medis di luar Gaza. Kepala Unit Informasi Kementerian Kesehatan Gaza, Zaher Al Waheidi, mengungkapkan bahwa 1.200 pasien, termasuk 155 anak-anak, telah meninggal dunia karena gagal dievakuasi untuk mendapatkan perawatan.
Tahanan Palestina Dibebaskan dalam Kondisi Memprihatinkan
Di sisi lain, enam warga Palestina yang baru dibebaskan dari penahanan Israel tiba di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir el-Balah pada Minggu untuk menjalani perawatan medis. Pemindahan dilakukan melalui Komite Internasional Palang Merah (ICRC). Kelompok hak asasi manusia menegaskan bahwa para tahanan tersebut ditahan tanpa proses hukum yang jelas.
ICRC mengungkapkan bahwa sejak Oktober 2023, mereka tidak diberi akses ke warga Palestina yang ditahan di Israel, seraya mengingatkan bahwa hukum humaniter internasional mewajibkan perlakuan manusiawi serta hak untuk berkomunikasi dengan keluarga. Banyak mantan tahanan melaporkan kondisi kekurangan gizi, penyiksaan, dan cedera serius selama masa penahanan.
Sekitar 1.700 tahanan Palestina sempat dibebaskan pada Oktober lalu sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata. Namun, lebih dari 10.000 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, masih mendekam di penjara Israel, di mana laporan mengenai penganiayaan, kelaparan, dan pengabaian medis terus bermunculan.
Sementara itu, Pertahanan Sipil Gaza melaporkan berhasil menyelamatkan lima orang, termasuk seorang anak dan dua perempuan, yang terjebak di bawah reruntuhan atap rumah di kawasan Sheikh Radwan, barat laut Kota Gaza. Insiden tersebut menewaskan empat orang, menurut Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional Gaza.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, sedikitnya 18 warga Palestina tewas akibat runtuhnya 46 bangunan, dampak dari kerusakan struktural parah akibat serangan sebelumnya. Secara keseluruhan, agresi Israel di Gaza sejak Oktober 2023 telah merenggut lebih dari 70.000 nyawa warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 171.000 orang, sebuah tragedi kemanusiaan yang terus menuntut perhatian dan tanggung jawab dunia internasional.