Tenda pengungsi Palestina di halaman Rumah Sakit Al-Shifa Kota Gaza. Foto: Reuters
JAKARTA, (ERAKINI) - Memasuki hari ke-7 puasa Ramadhan, tentara Israel kembali membombardir rumah sakit terbesar di Gaza, Al-Shifa. Serangan ini merupakan yang kedua setelah November tahun lalu yang memicu kemarahan dunia internasional.
Israel melancarkan operasi militer pada Senin (18/3/2024) waktu setempat di sekitar Rumah Sakit Al-Shifa melalui serangan udara. Saksi mata di Kota mengatakan kepada AFP bahwa mereka melihat tank mengelilingi lokasi rumah sakit.
Menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, puluhan ribu warga Palestina sedang mengungsi di kompleks yang diserang tentara Israel tersebut. Kementerian telah menerima telepon dari orang-orang di dekat lokasi rumah sakit yang menyatakan ada puluhan korban jiwa.
“Tidak ada yang bisa membawa mereka ke rumah sakit, karena intensitas tembakan dan tembakan artileri,” sebut kementerian itu.
Israel telah berulang kali menuduh Hamas menjalankan operasi militer dari area Rumah Sakit Al-Shifa dan pusat kesehatan lainnya. Namun klaim Israel telah dibantah oleh kelompok Hamas.
Kantor media pemerintah Hamas di Gaza mengutuk operasi tersebut dengan mengatakan bahwa penyerbuan kompleks RS Al-Shifa dengan tank, drone, dan senjata, serta penembakan di dalamnya, sebuah kejahatan perang.
Tentara Israel telah melakukan berbagai operasi di dalam dan sekitar fasilitas medis di Jalur Gaza sejak dimulainya perang 7 Oktober 2023. Setelah operasinya pada 15 November 2023 di Al-Shifa, militer Israel mengklaim menemukan senjata dan peralatan militer lainnya disembunyikan di lokasi tersebut.
Israel juga mengklaim telah menemukan terowongan sepanjang 55 meter di ruang bawah tanah dan membagikan rekaman yang membuktikan adanya sandera yang ditahan di sana. Namun hal ini juga dibantah oleh Hamas.
Menurut PBB, 155 fasilitas kesehatan di Jalur Gaza telah rusak sejak perang meletus. Gaza kini menghadapi ancaman kelaparan dan banyak penduduk di wilayah tersebut terpaksa harus mengungsi beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir.
Selama beberapa pekan, fokus perang adalah di Gaza Selatan, dimana sekitar 1,5 juta orang yang melarikan diri dari wilayah tersebut mencari perlindungan sejak dimulainya perang.
Sekutu Israel, termasuk AS, telah memperingatkan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu agar tidak melancarkan operasi skala penuh di Rafah dekat perbatasan Mesir. Rafah adalah satu-satunya pusat kota di Gaza yang belum dimasuki pasukan darat Israel.
Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan serangan itu mengakibatkan banyak korban jiwa sehingga akan membuat kesepakatan damai di wilayah tersebut menjadi sangat sulit.
Tapi Israel bersikeras bahwa tujuan perangnya untuk melenyapkan Hamas tidak dapat dicapai tanpa operasi di seluruh wilayah tersebut.
Pada hari Minggu, Netanyahu bersumpah bahwa warga sipil di Selatan Jalur Gaza boleh pergi sebelum pasukannya masuk untuk mengejar kelompok Hamas.
“Tujuan kami dalam melenyapkan batalyon teroris (kelompok Hamas) yang tersisa di Rafah sejalan dengan memungkinkan penduduk sipil meninggalkan Rafah,” kata Netanyahu pada konferensi pers bersama Scholz.