Kapal dan kapal tanker di Selat Hormuz, Bandar Abbas, Iran. (Foto: AFP)
DUBAI, (ERAKINI) - Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Iran menegaskan haknya untuk mengatur lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Pernyataan tersebut muncul hanya sehari setelah sebuah kapal dagang menjadi sasaran serangan di perairan dekat Oman, memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan pascakesepakatan awal antara Teheran dan Washington.
Melansir Arab News, Pemerintah Iran mengecam pernyataan bersama Amerika Serikat dan enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang menolak klaim Teheran terkait kewenangannya mengenakan biaya terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Menurut Iran, sikap negara-negara tersebut merupakan bentuk campur tangan yang tidak dapat diterima.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa keamanan pelayaran di Selat Hormuz tidak dapat dipisahkan dari peran Iran sebagai negara yang berbatasan langsung dengan jalur strategis tersebut.
Ia menyatakan bahwa upaya mengabaikan posisi Iran dalam pengelolaan selat hanya akan menambah ketidakpastian dan berpotensi mengganggu stabilitas pelayaran internasional.
Meski ketegangan geopolitik meningkat, harga minyak dunia justru bergerak melemah pada perdagangan Jumat. Pasar masih mencoba mencerna berbagai perkembangan terbaru, termasuk perbedaan interpretasi mengenai kesepakatan sementara antara Iran dan Amerika Serikat serta perlambatan aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.
Di tengah situasi yang belum sepenuhnya stabil, aktivitas ekspor minyak Arab Saudi mulai menunjukkan pemulihan. Data pelayaran memperlihatkan bahwa terminal minyak Ras Tanura kembali melakukan pemuatan minyak mentah setelah sebelumnya mengalami gangguan selama beberapa bulan akibat konflik regional.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, memperingatkan bahwa setiap upaya menghambat atau mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz dapat memicu konsekuensi serius.
Dalam pernyataan bersama, Amerika Serikat dan negara-negara GCC menekankan pentingnya kebebasan pelayaran tanpa hambatan, tanpa pungutan tambahan, serta tanpa upaya sepihak untuk menguasai jalur perdagangan internasional tersebut. Mereka juga menilai bahwa perdamaian jangka panjang di kawasan harus mencakup pembahasan mengenai program rudal balistik, drone, dan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok sekutunya di Timur Tengah.
Menanggapi hal itu, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Teluk justru menjadi sumber instabilitas. Teheran kembali menekankan bahwa pengelolaan Selat Hormuz seharusnya dilakukan bersama Oman sesuai kerangka kesepakatan yang telah dibahas sebelumnya.
Iran juga memperingatkan negara-negara kawasan agar tidak menerapkan kebijakan yang dianggap bermusuhan atau terlalu mencampuri urusan regional.
Ketegangan semakin meningkat setelah kapal kontainer berbendera Singapura milik perusahaan pelayaran Taiwan, Ever Lovely, dilaporkan terkena hantaman benda tak dikenal saat melintasi perairan dekat Oman pada Kamis. Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan fatal, insiden tersebut kembali memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan jalur perdagangan internasional.
Dua pejabat Amerika Serikat menuduh Iran berada di balik serangan tersebut. Namun hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Washington yang memberikan rincian lebih lanjut mengenai tuduhan tersebut.
Di sisi lain, otoritas Iran yang mengawasi lalu lintas pelayaran di kawasan Teluk menyatakan bahwa kapal yang menggunakan jalur di luar rute resmi menanggung risiko dan tanggung jawab sendiri apabila terjadi insiden.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga telah memperingatkan bahwa Washington dapat mengambil tindakan militer kembali apabila Iran tidak menjalankan poin-poin dalam kesepakatan sementara, termasuk terkait akses dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Selain persoalan navigasi laut, sejumlah isu lain masih menjadi ganjalan dalam perundingan antara kedua negara. Di antaranya adalah masa depan program nuklir Iran, mekanisme inspeksi internasional, insentif ekonomi bagi Teheran, hingga dinamika konflik yang masih berlangsung di Lebanon.
Kesepakatan awal yang telah dicapai memberikan waktu sekitar 60 hari bagi para pihak untuk merundingkan isu-isu strategis yang lebih kompleks. Program nuklir Iran menjadi salah satu agenda utama yang akan menentukan keberhasilan proses diplomasi tersebut.
Di tingkat internasional, situasi keamanan yang memburuk membuat International Maritime Organization (IMO) untuk sementara menghentikan operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz setelah insiden di dekat Oman.