Perang saudara Sudan selama tiga tahun telah menghancurkan wilayah Darfur yang luas di bagian barat, tempat RSF telah memperkuat kendali. (Foto: AFP).
KAIRO, (ERAKINI) - Gelombang kekerasan kembali mengguncang Sudan. Serangan mematikan yang dilancarkan pasukan paramiliter di wilayah Darfur Barat dilaporkan memaksa lebih dari 3.000 orang meninggalkan rumah mereka hanya dalam hitungan hari. Peristiwa ini terjadi ketika perang saudara di negara Afrika tersebut mendekati tahun ketiga tanpa tanda-tanda mereda.
Laporan tersebut disampaikan oleh Jaringan Dokter Sudan, kelompok medis independen yang memantau dampak konflik bersenjata di Sudan. Dalam pernyataan sebelumnya di media sosial, mereka mengungkapkan bahwa serangan terbaru di Kota Misteriha, Provinsi Darfur Utara, menewaskan sedikitnya 28 orang dan melukai 39 lainnya. Namun, angka tersebut disebut masih bersifat sementara dan kemungkinan akan bertambah seiring pendataan di lapangan.
Misteriha dikenal sebagai basis pengaruh Musa Hilal, tokoh suku Arab yang memiliki posisi penting di kawasan tersebut. Meski berasal dari suku Rizeigat, kelompok yang sama dengan mayoritas anggota Pasukan Pendukung Cepat, Hilal justru menyatakan dukungan terhadap pemerintah Sudan. Hingga kini, motif di balik penyerangan tersebut belum jelas, sementara pihak Pasukan Pendukung Cepat (RSF) belum memberikan tanggapan resmi.
Konflik antara militer Sudan dan Pasukan Pendukung Cepat meletus pada April 2023 dan berkembang menjadi perang terbuka. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia, sedikitnya 40.000 orang telah tewas dan sekitar 12 juta lainnya terpaksa mengungsi. Namun, sejumlah lembaga kemanusiaan memperkirakan jumlah korban sesungguhnya jauh lebih besar, mengingat akses terbatas ke wilayah-wilayah terpencil yang menjadi medan tempur.
Menurut keterangan kelompok dokter, warga Misteriha melarikan diri pada malam hari tanpa sempat membawa harta benda. Kini, mereka menghadapi kondisi darurat dengan kekurangan tempat berlindung, makanan, dan layanan kesehatan. Mayoritas pengungsi merupakan perempuan, termasuk ibu hamil, yang berada dalam kondisi kesehatan memprihatinkan. Mereka mendesak adanya bantuan kemanusiaan yang cepat dan mendesak.
Pada awal pekan, RSF meningkatkan intensitas serangan dan akhirnya menguasai kota tersebut, langkah yang dinilai akan semakin memperkuat dominasi mereka di wilayah Darfur.
Sebelumnya, pada Oktober lalu, kelompok paramiliter itu juga berhasil mengambil alih el-Fasher, ibu kota Darfur Utara, setelah pengepungan selama 18 bulan. Dalam rentang 25 hingga 27 Oktober, lebih dari 6.000 orang dilaporkan tewas di kota tersebut. Para ahli yang didukung PBB menyebut kekejaman itu menunjukkan pola yang menyerupai genosida.
Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Turk, menyatakan bahwa pihaknya mencatat lonjakan drastis pembunuhan warga sipil sepanjang 2025, lebih dari dua setengah kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Ribuan orang lainnya dilaporkan hilang atau belum teridentifikasi.
Dalam sidang dewan HAM di Jenewa, Türk mengecam keras situasi tersebut. Ia menyebut perang di Sudan sebagai konflik yang brutal, penuh pertumpahan darah, dan tidak masuk akal. Ia juga mengkritik sikap komunitas internasional yang dinilai terlalu pasif dalam menghadapi tragedi kemanusiaan ini.
Berbagai upaya mediasi yang dilakukan sejumlah negara dan organisasi internasional sejauh ini belum membuahkan hasil. Sementara itu, jutaan warga Sudan terus hidup dalam bayang-bayang kekerasan, kelaparan, dan ketidakpastian masa depan.