Tambah Lagi 15 Orang Tewas dalam Serangan Israel di Gaza di Tengah Upaya Negosiasi
Akhmad Baihaqi Arsyad







Juru bicara pertahanan sipil Mahmud Bassal mengatakan di Telegram bahwa "kru kami menemukan jasad 10 martir dan sejumlah besar korban luka dari rumah keluarga Baraka dan rumah-rumah tetangga yang menjadi sasaran pasukan pendudukan Israel di daerah Bani Suhaila di sebelah timur Khan Yunis," di Jalur Gaza selatan.
Bassal kemudian mengumumkan bahwa serangan terpisah menghantam dua rumah di Tal Al-Zaatar, Gaza utara, tempat kru telah "menemukan jasad lima orang."
Militer Israel, yang tidak segera berkomentar, telah mengintensifkan pemboman udara dan memperluas operasi daratnya di Jalur Gaza sejak melanjutkan serangannya di wilayah Palestina yang terkepung pada tanggal 18 Maret 2025.
Pada hari Kamis, badan pertahanan sipil melaporkan kematian sedikitnya 40 penduduk dalam serangan Israel, sebagian besar dari mereka berada di kamp-kamp untuk warga sipil yang mengungsi, saat Israel melancarkan serangannya.
Sementara itu, Pemimpin Hamas di Gaza mengatakan kelompok itu siap untuk segera menegosiasikan kesepakatan untuk menukar semua sandera dengan sejumlah warga Palestina yang dipenjara oleh Israel. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas untuk mengakhiri perang di daerah kantong itu.
Melansir Arab News, dalam pidato yang disiarkan di televisi, Khalil Al-Hayya, yang memimpin tim negosiasi Hamas untuk pembicaraan tidak langsung dengan Israel, mengatakan kelompok itu menolak kesepakatan gencatan senjata sementara.
“Netanyahu dan pemerintahannya menggunakan perjanjian parsial sebagai kedok untuk agenda politik mereka, yang didasarkan pada kelanjutan perang pemusnahan dan kelaparan, bahkan jika harganya adalah mengorbankan semua tahanannya (sandera). Kami tidak akan menjadi bagian dari kebijakan ini,” kata Hayya, merujuk pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Para mediator Mesir telah berupaya untuk menghidupkan kembali perjanjian gencatan senjata Januari yang menghentikan pertempuran di Gaza sebelum gagal bulan lalu, tetapi hanya ada sedikit tanda kemajuan dengan Israel dan Hamas saling menyalahkan atas tidak adanya kesepakatan.
Putaran perundingan terakhir pada hari Senin di Kairo untuk memulihkan gencatan senjata dan membebaskan sandera Israel berakhir tanpa ada terobosan yang jelas, kata sumber-sumber Palestina dan Mesir.
Hayya mengatakan bahwa Hamas menerima usulan dari para mediator, Qatar dan Mesir, untuk membebaskan beberapa sandera sebagai imbalan bagi warga Palestina yang dipenjara oleh Israel dan memulai perundingan tentang penerapan fase kedua dari perjanjian gencatan senjata yang mencakup penghentian perang dan penarikan pasukan Israel dari Gaza. Ia menuduh Israel menawarkan usulan balasan dengan "syarat-syarat yang mustahil."
