Para pengungsi Palestina berkumpul untuk menerima bantuan makanan di dapur umum di Khan Yunis, Jalur Gaza selatan, pada hari Rabu. Gencatan senjata yang disponsori AS, yang berlaku sejak 10 Oktober, masih rapuh. (Foto: AFP).
GAZA, (ERAKINI) - Situasi di Jalur Gaza kembali memanas setelah pasukan Israel menembakkan mortir ke kawasan permukiman warga Palestina. Serangan terbaru ini melukai sedikitnya 10 orang sipil dan semakin mengguncang yang sejak awal dinilai rapuh. Otoritas kesehatan menyebutkan sejumlah korban berada dalam kondisi kritis, sementara militer mengklaim tengah melakukan penyelidikan atas insiden tersebut.
Melansir Arab News, menurut pernyataan militer Israel, mortir dilepaskan saat operasi di sekitar area yang mereka sebut sebagai ‘Garis Kuning’, sebuah batas imajiner yang ditetapkan dalam kesepakatan gencatan senjata dan memisahkan wilayah Gaza yang berada di bawah kendali militer Israel dengan area lainnya. Namun, pihak militer tidak menjelaskan secara rinci aktivitas pasukan mereka di lokasi tersebut, termasuk apakah mereka telah melampaui garis batas yang disepakati.
Militer Israel juga menyebutkan bahwa proyektil mortir tersebut melenceng dari sasaran awal, tanpa mengungkap target yang dimaksud. Pernyataan ini menuai sorotan tajam, mengingat dampaknya justru dirasakan langsung oleh warga sipil di kawasan padat penduduk.
Direktur Rumah Sakit Al-Ahli di Gaza, Fadel Naeem, mengonfirmasi bahwa fasilitas medisnya menerima sedikitnya 10 korban luka akibat serangan di pusat Kota Gaza. Ia menyebutkan beberapa di antaranya mengalami luka serius dan membutuhkan penanganan intensif.
Insiden ini menambah daftar panjang pelanggaran yang terjadi sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober. Data otoritas kesehatan Palestina menunjukkan bahwa lebih dari 370 warga Palestina telah meninggal dunia akibat tembakan pasukan Israel sejak kesepakatan tersebut diberlakukan, termasuk di luar area Garis Kuning.
Pihak Israel kerap menyatakan bahwa tembakan dilepaskan sebagai respons atas dugaan pelanggaran oleh Hamas dan mengklaim sebagian besar korban adalah militan. Namun, seorang pejabat militer Israel yang berbicara secara anonim mengakui bahwa pasukan mereka menyadari adanya sejumlah kejadian di mana warga sipil turut menjadi korban, termasuk anak-anak dan satu keluarga yang sedang bepergian menggunakan kendaraan.
Warga Palestina menegaskan bahwa jatuhnya korban sipil tidak terlepas dari ketidakjelasan penandaan garis perbatasan. Meski Israel menyebut telah memasang penanda berupa balok kuning, di banyak wilayah penanda tersebut belum terpasang secara memadai, sehingga membahayakan warga yang beraktivitas di sekitar area tersebut.
Upaya melanjutkan gencatan senjataIsrael–Hamas ke tahap berikutnya masih tersendat. Kedua pihak saling melontarkan tuduhan pelanggaran. Tahap awal kesepakatan mencakup pertukaran sandera dengan tahanan Palestina. Sementara itu, fase lanjutan dirancang mencakup kehadiran pasukan stabilisasi internasional, pembentukan pemerintahan teknokratis di Gaza, pelucutan senjata Hamas, serta penarikan lebih lanjut pasukan Israel dari wilayah tersebut.
Hingga kini, jenazah salah satu sandera Israel, Ran Gvili, masih berada di Gaza. Israel menjadikan pengembalian jenazah tersebut sebagai syarat untuk melangkah ke fase selanjutnya, meskipun situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk.
Di sisi lain, Hamas mendesak komunitas internasional untuk meningkatkan tekanan terhadap Israel agar membuka penyeberangan perbatasan utama, menghentikan serangan mematikan, serta mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan dalam jumlah yang memadai. Data yang dirilis militer Israel sendiri menunjukkan bahwa ketentuan gencatan senjata terkait masuknya 600 truk bantuan per hari ke Gaza belum sepenuhnya terpenuhi, meski klaim ini dibantah oleh pihak Israel.
Lembaga-lembaga kemanusiaan menegaskan bahwa terbatasnya bantuan telah berdampak serius terhadap hampir seluruh penduduk Gaza. Persediaan makanan masih sangat minim, sementara wilayah tersebut berupaya bangkit dari kondisi kelaparan yang sempat melanda sebagian besar Gaza selama perang berlangsung.
Lebih dari dua juta penduduk Gaza kini hidup dalam kondisi terpaksa mengungsi. Sebagian besar bertahan di kamp-kamp tenda yang padat atau di antara puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan bertubi-tubi.
Sebagai latar belakang konflik, serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 di wilayah selatan Israel menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 orang disandera. Hampir seluruh sandera atau jenazah mereka telah dipulangkan melalui gencatan senjata dan kesepakatan lainnya.
Sementara itu, kampanye militer Israel di Gaza yang telah berlangsung selama dua tahun menelan korban sangat besar. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 70.660 warga Palestina tewas, dengan sekitar separuhnya adalah perempuan dan anak-anak. Meski tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan dalam pendataannya, catatan kementerian tersebut, yang dijalankan oleh tenaga medis profesional, selama ini dinilai luas oleh komunitas internasional sebagai sumber data yang kredibel.
Di tengah gempuran dan blokade yang belum berakhir, warga Gaza terus menanggung beban terberat konflik, menjadi korban dari kekerasan yang tak kunjung berhenti, bahkan ketika gencatan senjata seharusnya memberi harapan akan keselamatan dan kemanusiaan.