Anggota pertahanan sipil Palestina mencari jenazah keluarga Salem di reruntuhan bangunan yang hancur pada tahun 2023 di lingkungan Rimal, Kota Gaza, pada 15 Desember 2025. (Foto: AFP).
GAZA, (ERAKINI) - Penderitaan warga Gaza kian mencapai titik nadir. Di tengah hujan deras dan badai yang melanda wilayah Palestina itu, otoritas setempat memperingatkan bahwa semakin banyak bangunan yang telah rusak akibat perang berisiko runtuh sewaktu-waktu, mengancam nyawa warga yang masih bertahan di dalamnya.
Melansir Arab News, cuaca ekstrem memperparah kondisi kemanusiaan yang sudah kritis. Proses evakuasi jenazah yang masih terperangkap di bawah puing-puing bangunan hancur kini semakin sulit dilakukan. Otoritas Gaza menyebut hujan lebat dan angin kencang membuat struktur bangunan rapuh tak lagi mampu menopang diri.
Pada Jumat lalu, dua bangunan ambruk di wilayah Gaza dan menewaskan sedikitnya 12 orang. Badai yang sama juga menghanyutkan tenda-tenda pengungsi, membanjiri area tempat tinggal darurat, dan memicu kematian akibat kedinginan, terutama di kalangan anak-anak dan lansia.
Meski Israel dan Hamas telah menyepakati gencatan senjata pada Oktober setelah hampir dua tahun pengeboman dan operasi militer brutal, lembaga kemanusiaan menegaskan bahwa bantuan yang masuk ke Gaza masih jauh dari memadai. Hampir seluruh penduduk Gaza kini kehilangan tempat tinggal dan hidup dalam kondisi yang tidak layak manusia.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mendesak komunitas internasional agar segera bertindak nyata dengan menyediakan rumah mobil dan karavan bagi para pengungsi Palestina, bukan sekadar tenda tipis yang tak mampu melindungi dari hujan dan dingin.
“Jika warga tidak mendapatkan perlindungan yang layak hari ini, kita akan menyaksikan lebih banyak korban. Anak-anak, perempuan, dan seluruh keluarga akan terus menjadi korban di dalam bangunan-bangunan rapuh ini,” tegas Basal.
Kisah pilu dialami Mohammed Nassar dan keluarganya. Mereka tinggal di sebuah gedung enam lantai yang telah rusak parah akibat serangan Israel di awal perang. Gedung itu akhirnya runtuh pada Jumat. Sebelumnya, keluarga Nassar sempat mengungsi ke tenda, namun berkali-kali terendam banjir saat cuaca buruk.
Saat peristiwa tragis itu terjadi, Nassar sedang keluar untuk membeli kebutuhan pokok. Ketika kembali, ia mendapati pemandangan mengerikan: tim penyelamat berjuang menarik jenazah dari bawah reruntuhan.
“Saya melihat tangan putra saya keluar dari bawah tanah. Pemandangan itu menghancurkan jiwa saya. Anak saya terkubur dan kami tak mampu mengeluarkannya,” ujar Nassar dengan suara bergetar. Putranya yang berusia 15 tahun dan putrinya yang berusia 18 tahun meninggal dunia dalam tragedi tersebut.
Kepala badan pengungsi Palestina PBB (UNRWA), Philippe Lazzarini, pada Senin kembali memperingatkan bahwa keterlambatan masuknya bantuan dapat berujung pada bencana kemanusiaan yang lebih besar. Ia menegaskan bahwa bantuan harus diizinkan masuk ke Gaza tanpa hambatan.
“Dengan hujan deras dan udara dingin yang dibawa Badai Byron, warga Gaza membeku hingga meninggal,” tulis Lazzarini.
“Reruntuhan yang tergenang air tempat mereka berlindung runtuh dan memperparah paparan dingin,” tambahnya.
Menurut Lazzarini, UNRWA memiliki persediaan bantuan yang telah tertahan selama berbulan-bulan dan cukup untuk memenuhi kebutuhan ratusan ribu warga dari lebih dua juta penduduk Gaza, jika saja diizinkan masuk.
Pejabat PBB dan Palestina memperkirakan sedikitnya 300.000 tenda baru dibutuhkan untuk sekitar 1,5 juta pengungsi. Sebagian besar tempat penampungan yang ada saat ini sudah rusak, lapuk, atau hanya berupa plastik tipis dan terpal kain yang tak layak menghadapi musim dingin.
Di sisi lain, otoritas Gaza masih berupaya menemukan sekitar 9.000 jenazah yang diyakini masih terkubur di bawah reruntuhan akibat pemboman Israel. Namun, keterbatasan alat berat dan mesin memperlambat proses pencarian, ungkap juru bicara pemerintah Gaza, Ismail Al-Thawabta.
Pada Senin, tim penyelamat berhasil menemukan sisa-sisa sekitar 20 jenazah dari sebuah gedung bertingkat yang dibom pada Desember 2023. Gedung itu diyakini menjadi tempat berlindung sekitar 60 orang, termasuk 30 anak-anak.
Otoritas Gaza menegaskan bahwa Israel tidak mengizinkan masuknya bantuan sesuai dengan janji dalam kesepakatan gencatan senjata. Sejumlah lembaga kemanusiaan juga menyatakan bahwa banyak barang vital masih diblokade.
Sementara itu, Israel mengklaim telah memenuhi kewajibannya dan menuduh lembaga bantuan tidak efektif serta gagal mencegah penjarahan oleh Hamas, tuduhan yang dibantah keras oleh pihak Hamas.
Di tengah badai, reruntuhan, dan blokade, warga Gaza terus berjuang mempertahankan hidup dan martabat mereka. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa krisis Palestina bukan sekadar konflik politik, melainkan bencana kemanusiaan yang menuntut kepedulian dan tindakan nyata dunia.