Iman Al-Atoutt memperbaiki tendanya setelah berhari-hari diguyur hujan di sebuah kamp darurat untuk pengungsi Palestina yang didirikan di pantai Kota Gaza, Selasa, 16 Desember 2025. (Foto: AP).
DEIR AL-BALAH, (ERAKINI) - Derita warga Palestina di Gaza kembali bertambah. Setelah bertahun-tahun digempur perang, kini badai hujan lebat selama beberapa hari terakhir justru memperparah krisis kemanusiaan. Sedikitnya 12 orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk seorang bayi berusia dua pekan, sementara ribuan keluarga berjuang bertahan di tengah tenda-tenda yang terendam air dan bangunan rapuh yang sewaktu-waktu ambruk.
Melansir Arab News, curah hujan ekstrem yang melanda Gaza selama sepekan terakhir mencapai lebih dari 150 milimeter di sejumlah wilayah. Jalanan tanah berubah menjadi kubangan lumpur, sementara kamp-kamp pengungsi kebanjiran. Tenda-tenda darurat yang menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi warga tak mampu menahan derasnya air hujan, membuat kasur dan selimut basah kuyup.
Kementerian Kesehatan Gaza menyampaikan bahwa bayi berusia dua minggu meninggal dunia akibat hipotermia. Bayi tersebut sempat dirawat intensif di rumah sakit setelah kondisinya memburuk karena cuaca dingin dan basah, namun nyawanya tak tertolong. Tragedi ini menjadi simbol pahit rapuhnya kondisi kemanusiaan di Gaza.
Di Kota Gaza, hujan deras juga memicu runtuhnya bangunan yang sebelumnya telah rusak akibat serangan militer Israel. Seorang pria dilaporkan tewas setelah rumah tersebut ambruk. Keluarga Al-Hosari menyebutkan bahwa gedung itu dihuni sekitar 30 orang, meski hanya sembilan yang berada di dalam saat kejadian. Korban tewas merupakan pekerja yang sedang memperbaiki dinding, sementara lima orang lainnya mengalami luka-luka.
Kementerian Kesehatan mencatat, dalam sepekan terakhir total 10 orang lainnya juga kehilangan nyawa akibat bangunan runtuh yang tak mampu menahan terpaan hujan dan angin kencang. Petugas darurat terus mengingatkan warga agar menjauhi bangunan rusak, namun kenyataannya sebagian besar wilayah Gaza telah rata dengan puing, menyisakan hampir tak ada pilihan tempat aman untuk berlindung.
Data Pusat Satelit Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Juli lalu menunjukkan sekitar 80 persen bangunan di Gaza hancur atau mengalami kerusakan. Di tengah kehancuran itu, warga dipaksa menghadapi musim dingin tanpa perlindungan layak.
“Setiap kali mendengar kabar badai, hidup kami langsung dipenuhi ketakutan,” ujar Mohammed Gharableh, pengungsi asal Rafah. “Kami bingung harus menyelamatkan anak-anak ke mana, bagaimana menjaga mereka tetap hangat. Air selalu masuk ke tenda, semua basah, dan kami tak punya pilihan,” tuturnya lirih.
Ironisnya, di wilayah Israel yang berdekatan dengan Gaza, curah hujan tercatat antara 60 hingga 160 milimeter dalam periode yang sama. Namun perbedaan mencolok terlihat pada kesiapan infrastruktur. Sementara Gaza, yang porak-poranda akibat perang, tak memiliki sistem drainase dan perlindungan memadai.
Lembaga-lembaga kemanusiaan menegaskan bahwa meski gencatan senjata telah berlangsung sekitar dua bulan, bantuan yang masuk ke Gaza masih jauh dari cukup. Material tempat tinggal, terutama perlengkapan musim dingin, sangat minim. Data militer Israel menunjukkan jumlah truk bantuan yang masuk belum memenuhi ketentuan gencatan senjata, meski klaim ini dibantah oleh pihak Israel.
Dari sekitar dua juta penduduk Gaza, sebagian besar kini terusir dari rumahnya. Mereka bertahan hidup di kamp-kamp tenda di sepanjang pesisir atau di antara puing-puing bangunan yang rusak. Tanpa infrastruktur pengendalian banjir dan sanitasi layak, warga terpaksa menggali lubang di dekat tenda untuk kebutuhan dasar.
Pihak COGAT, badan militer Israel yang mengoordinasikan bantuan ke Gaza, mengklaim telah memasukkan ratusan ribu tenda dan terpal, serta perlengkapan musim dingin dan sanitasi. Namun organisasi kemanusiaan internasional membantah angka tersebut. Shelter Cluster, koalisi bantuan global yang dipimpin Dewan Pengungsi Norwegia, mencatat hanya sekitar 68 ribu tenda yang benar-benar terpantau masuk, banyak di antaranya tanpa isolasi yang memadai untuk menghadapi dinginnya musim hujan.
Di tengah badai, puing-puing, dan keterbatasan bantuan, rakyat Palestina di Gaza kembali dipaksa bertahan dalam kondisi yang jauh dari kata manusiawi—menjadikan hujan deras bukan sekadar bencana alam, melainkan penderitaan tambahan di atas luka panjang akibat perang.