Amerika Serikat (AS) untuk keenam kalinya memveto rancangan resolusi di Dewan PBB yang menuntut gencatan senjata segera dan permanen di Gaza. Foto: AFP
JAKARTA, (ERAKINI) – Amerika Serikat (AS) untuk keenam kalinya memveto rancangan resolusi di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menuntut gencatan senjata segera dan permanen di Gaza, serta pembebasan para sandera.
Dikutip dari BBC, Sabtu (20/9/2025), Wakil utusan AS untuk Timur Tengah Morgan Ortagus mengatakan, teks resolusi tersebut tidak cukup keras dalam mengecam Hamas maupun mengakui hak Israel untuk membela diri.
Semua 14 anggota lain Dewan Keamanan memberikan suara mendukung rancangan resolusi itu, yang menggambarkan situasi kemanusiaan di Gaza sebagai “katastrofis” dan menyerukan Israel untuk mencabut semua pembatasan bantuan.
Langkah ini diambil ketika kantor kemanusiaan PBB memperingatkan bahwa jalur terakhir penyelamatan bagi warga sipil di Gaza City tengah runtuh seiring Israel memperluas serangan militernya.
Di panggung internasional, Israel dan sekutu terdekatnya kini terlihat semakin terisolasi.
Berbicara sebelum pemungutan suara, Ortagus mengatakan penolakan Washington terhadap resolusi tersebut tidak seharusnya mengejutkan.
“Resolusi ini gagal mengecam Hamas atau mengakui hak Israel untuk membela diri, serta secara keliru melegitimasi narasi palsu yang menguntungkan Hamas, yang sayangnya mendapat tempat di dewan ini,” katanya.
Setelah pemungutan suara, para anggota PBB segera menyatakan kekecewaan mereka. Duta Besar Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, menyebut keputusan AS sangat disesalkan dan menyakitkan. Langkah AS itu telah menghalangi Dewan Keamanan untuk memainkan perannya yang semestinya dalam menghadapi kekejaman ini.
Duta Besar Pakistan, Asim Ahmad, menggambarkan veto tersebut sebagai momen kelam di ruangan tersebut. “Dunia sedang menyaksikan. Tangisan anak-anak seharusnya menembus hati kita,” ujarnya.
Amar Bendjama, Duta Besar Aljazair, menyampaikan permintaan maaf kepada rakyat Palestina atas kegagalan ini. “Saudara-saudara Palestina, saudari-saudari Palestina, maafkan kami,” katanya.
“Maafkan kami, karena dunia berbicara tentang hak, tetapi menolaknya bagi rakyat Palestina. Maafkan kami karena upaya kami, upaya tulus kami, hancur di hadapan tembok penolakan ini,” tambahnya.
Pemungutan suara terbaru di PBB ini berlangsung hanya beberapa hari sebelum para pemimpin dunia berkumpul dalam Sidang Umum PBB, di mana Gaza akan menjadi isu utama dan sejumlah sekutu dekat Amerika, termasuk Inggris, diperkirakan akan mengakui negara Palestina yang merdeka.
Sementara itu, tank dan pasukan Israel terus bergerak maju ke Gaza City pada hari ketiga ofensif darat, memaksa ribuan orang mengungsi.
Olga Cherevko, juru bicara kantor kemanusiaan PBB, mengatakan kepada BBC bahwa situasi di Gaza City “benar-benar bersifat kataklismik.”
Militer Israel melancarkan kampanye di Gaza sebagai respons terhadap serangan Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang lainnya.
Sejak saat itu, sedikitnya 65.141 orang telah tewas akibat serangan Israel di Gaza, menurut kementerian kesehatan wilayah tersebut.
Kementerian itu juga menyebutkan 435 orang lainnya sejauh ini meninggal akibat malnutrisi dan kelaparan selama perang, termasuk empat orang dalam 24 jam terakhir.