Krisis Iklim Ancam 41 Juta Orang di Karibia dan Amerika Latin
Akhmad Baihaqi Arsyad
JAKARTA, (ERAKINI) - Sebanyak 41 juta orang yang tinggal di wilayah pesisir Karibia dan Amerika Latin menghadapi peristiwa cuaca yang “mengancam jiwa” yang diperburuk oleh krisis iklim, menurut PBB dalam sebuah laporan baru, Selasa (28/5/2024).
Laporan Dana Kependudukan PBB (UNFPA) menemukan bahwa 41 juta orang atau sekitar 6 persen dari populasi di seluruh wilayah terkena ancaman badai dan banjir, sebagaimana dilansir dari Aljazeera, Rabu (29/5/2024).
Hampir 1.450 rumah sakit yang penting bagi kesehatan ibu dan keluarga berencana di seluruh wilayah juga berlokasi di daerah pesisir dengan ketinggian rendah yang lebih rentan terhadap bahaya alam, kata UNFPA.
Menurut laporan itu, lebih dari 80 persen rumah sakit di Aruba dan Kepulauan Cayman, Suriname, Bahamas dan Guyana berada di wilayah tersebut.
“Perubahan iklim berdampak paling parah terhadap perempuan dan anak perempuan dan memperburuk kesenjangan yang ada,” kata Direktur Eksekutif UNFPA, Dr Natalia Kanem dalam sebuah pernyataan.
“Jutaan perempuan dan anak perempuan yang miskin dan rentan, yang merupakan pihak yang paling tidak bertanggung jawab atas krisis iklim, harus menanggung akibat yang sangat besar ketika bencana terkait iklim menyerang dan mengganggu layanan kesehatan dan perlindungan serta penghidupan," imbuhnya.
Sementara itu, negara-negara kepulauan kecil di Pasifik, Atlantik dan Karibia, dengan emisi yang dapat diabaikan, sangat rentan terhadap krisis ekonomi dan kenaikan suhu karena paparan mereka terhadap bencana alam, utang yang tinggi dan ketergantungan pada impor dan pariwisata.


















