Cuplikan gambar dari rekaman video AFPTV tertanggal 12 Juli 2026 ini memperlihatkan sebuah kapal kargo yang sedang berlabuh di dekat Selat Hormuz, di lepas pantai timur Uni Emirat Arab, tepatnya di Khor Fakkan. (Foto: AFP).
DUBAI, (ERAKINI) – Ketegangan di kawasan Teluk kembali memuncak setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer terbaru terhadap Iran pada Selasa dini hari. Operasi tersebut dilakukan hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Washington akan kembali menerapkan blokade terhadap Iran di kawasan .
Dalam perkembangan terpisah, Trump juga mengungkapkan rencana Amerika Serikat untuk mengenakan biaya keamanan bagi kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut. Wacana itu memicu perhatian internasional karena dinilai bertolak belakang dengan kebijakan tradisional AS yang selama ini mendukung kebebasan navigasi global tanpa pungutan.
Tidak lama setelah serangan Amerika dilancarkan, Iran merespons dengan menargetkan wilayah Bahrain serta dua kapal tanker yang berafiliasi dengan Uni Emirat Arab di kawasan Selat Hormuz. Serangan tersebut menyebabkan seorang awak kapal meninggal dunia dan delapan lainnya mengalami luka-luka.
Pemerintah UEA mengecam tindakan tersebut dan menegaskan siap mengambil langkah balasan. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan kembali menyeret negara-negara Teluk ke dalam konfrontasi langsung dengan Iran.
Selat Hormuz Kembali Menjadi Pusat Perebutan Pengaruh
Konflik terbaru ini terjadi di tengah persaingan sengit antara Washington dan Teheran dalam memperebutkan pengaruh di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Dalam kondisi normal, sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam global melintasi perairan tersebut. Ketidakstabilan yang terus meningkat langsung memengaruhi pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak sekitar 7,8 persen hingga menyentuh level 81,92 dolar AS per barel.
Meski masih berada di bawah rekor tertinggi yang pernah tercapai selama periode perang sebelumnya, lonjakan harga ini memunculkan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi perekonomian global.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa operasi militer baru terhadap Iran telah dimulai dan akan terus berlanjut.
Menurut pernyataan resmi militer AS, serangan tersebut ditujukan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam melakukan serangan terhadap kapal-kapal komersial maupun sasaran sipil di kawasan Selat Hormuz.
Menanggapi operasi tersebut, Trump menyebut langkah militer yang dilakukan Washington sebagai aksi besar yang akan terus berlanjut. "Kami menghantam mereka dengan sangat keras. Operasi ini akan terus berjalan dan kita akan melihat perkembangan berikutnya," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Trump juga mengklaim bahwa Amerika Serikat kini menguasai jalur pelayaran strategis tersebut dan kembali menerapkan blokade terhadap Iran. Selain itu, ia menyampaikan bahwa kapal-kapal yang memperoleh perlindungan keamanan dari AS saat melintasi Selat Hormuz akan dikenakan biaya tertentu sebagai kompensasi atas operasi pengamanan yang dijalankan Washington.
Menurut Trump, Amerika telah mengeluarkan sumber daya besar untuk menjaga stabilitas jalur perdagangan internasional dan berhak memperoleh penggantian atas biaya tersebut.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan UEA mengonfirmasi bahwa dua kapal tanker mereka menjadi sasaran serangan saat berlayar di kawasan Selat Hormuz. Kedua kapal yang bernama Mombasa dan Al Bahiyah dilaporkan terkena rudal jelajah sehingga memicu kebakaran di atas kapal. Api akhirnya berhasil dipadamkan, namun insiden tersebut menyebabkan korban jiwa dan luka-luka.
Korban meninggal dunia diketahui merupakan seorang warga negara India yang bekerja sebagai awak kapal. Selain itu, enam warga India dan dua warga Ukraina dilaporkan mengalami cedera dengan beberapa di antaranya dalam kondisi serius.
Pasukan Garda Revolusi Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka menyatakan kapal-kapal itu tetap melintas meskipun telah menerima sejumlah peringatan sebelumnya. Menurut pihak Garda Revolusi, kedua kapal dianggap melanggar area yang telah ditetapkan sehingga menjadi target operasi militer.