Kanselir Jerman Wanti-wanti Perang Timur Tengah Jelang Perundingan Panas AS–Iran
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) — Kanselir Jerman Friedrich Merz memperingatkan potensi eskalasi militer di Timur Tengah menjelang perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan berlangsung di Oman pada Jumat (6/2/2026).
Berbicara di Doha, Qatar, Kamis (5/2)), Merz mengatakan kekhawatiran terhadap pecahnya konflik baru dengan Iran mendominasi seluruh agenda kunjungannya ke kawasan Teluk.
“Dalam semua pertemuan saya kemarin dan hari ini, kekhawatiran besar disampaikan mengenai kemungkinan eskalasi lebih lanjut dalam konflik dengan Iran,” ujar Merz dalam konferensi pers, dilansir Al Jazeera.
Merz mendesak Iran untuk menghentikan apa yang ia sebut sebagai tindakan agresif dan segera masuk ke jalur diplomasi. Ia menegaskan Jerman siap berperan aktif dalam upaya meredakan ketegangan serta mendorong stabilitas kawasan.
Peringatan tersebut disampaikan menjelang pertemuan penting antara pejabat Teheran dan Washington di Muscat. Sejumlah mediator dari Qatar, Turkiye, dan Mesir telah menyampaikan kerangka prinsip perundingan kepada kedua pihak.
Menurut dua sumber yang mengetahui proses negosiasi, kerangka tersebut mencakup komitmen Iran untuk secara signifikan membatasi pengayaan uranium. Namun, hingga menjelang perundingan, kedua pihak masih kesulitan menemukan titik temu, termasuk terkait cakupan isu yang akan dibahas.
Washington menegaskan bahwa diplomasi akan menjadi fokus utama perundingan. Presiden AS Donald Trump disebut menjadikan pertemuan ini sebagai tolok ukur apakah kesepakatan baru dengan Iran memungkinkan tercapai.
Sementara itu, Gedung Putih tetap melontarkan peringatan keras. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Presiden Trump memiliki banyak opsi selain diplomasi.
“Presiden memiliki banyak pilihan di luar diplomasi, sebagai panglima tertinggi militer terkuat dalam sejarah dunia,” ujarnya.
Di sisi lain, Iran menegaskan perundingan harus terbatas pada sengketa nuklirnya dengan negara-negara Barat. Teheran menolak tuntutan AS untuk memasukkan isu rudal balistik dan kebijakan regional, serta memperingatkan bahwa perluasan agenda dapat menggagalkan perundingan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menyatakan bahwa perundingan harus mencakup program rudal balistik Iran, dukungannya terhadap kelompok bersenjata di Timur Tengah, serta isu hak asasi manusia, selain program nuklir.
Seorang pejabat Gedung Putih mengungkapkan kepada Al Jazeera bahwa Jared Kushner, menantu Presiden Trump, bersama utusan khusus AS Steve Witkoff telah tiba di Doha menjelang perundingan. Qatar disebut memainkan peran kunci dalam memfasilitasi dialog, bersama mitra regional AS lainnya, termasuk Mesir.
Perundingan ini berlangsung di tengah meningkatnya tekanan militer terhadap Iran. Amerika Serikat telah mengerahkan ribuan pasukan ke Timur Tengah, termasuk kapal induk, kapal perang, jet tempur, pesawat mata-mata, dan pesawat pengisian bahan bakar udara.
Trump sebelumnya memperingatkan bahwa “hal-hal buruk” dapat terjadi jika kesepakatan gagal dicapai, meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Upaya diplomasi ini bukan yang pertama antara Iran dan AS, dua negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi sejak 1980.
Pada Juni lalu, kedua pihak sempat bertemu di Muscat untuk membahas kesepakatan nuklir, namun pembicaraan terhenti setelah Israel melancarkan serangan ke Iran yang menewaskan sejumlah pemimpin militer dan ilmuwan nuklir serta menargetkan fasilitas nuklir. Amerika Serikat kemudian sempat terlibat dengan membombardir beberapa situs nuklir Iran.


















