Warga Palestina berjuang mendapatkan makanan donasi di dapur umum di Kota Gaza. Foto:Abdel Kareem Hana/AP via Al Jazeera
JAKARTA, (ERAKINI) - Serangan udara Israel kembali mengguncang Gaza hanya beberapa jam setelah militer Israel mengumumkan akan memulai jeda kemanusiaan selama 10 jam per hari di beberapa wilayah untuk memungkinkan bantuan masuk. Sedikitnya 63 warga Palestina tewas dalam serangan terbaru.
Senin (28/7/2025), meski disebutkan bahwa jeda militer akan dilakukan setiap hari pukul 10 pagi hingga 8 malam waktu setempat di bagian tengah dan utara Gaza, termasuk al-Mawasi, Deir el-Balah, dan Kota Gaza, serangan udara tetap dilancarkan pada hari pertama inisiatif tersebut.
"Terjadi serangan udara di Gaza City, salah satu area yang disebut sebagai zona aman dan tempat pasukan Israel seharusnya menghentikan operasi militernya," lapor Hind Khoudary dari Al Jazeera di Deir el-Balah.
Sementara Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa 88 warga Palestina tewas dan 374 lainnya terluka dalam serangan Israel selama 24 jam terakhir.
Sejak perangIsrael di Gaza dimulai pada Oktober lalu, sedikitnya 59.821 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 144.000 orang mengalami luka-luka. Meski ada pembicaraan soal jeda kemanusiaan dan diplomasi, kenyataannya kekerasan terus berlangsung.
Di tengah kekerasan yang tak kunjung reda, krisis kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan enam warga Palestina, termasuk dua anak-anak, meninggal akibat kelaparan dalam 24 jam terakhir. Sejak Oktober 2023, total kematian akibat kelaparan kini mencapai 133 jiwa.
Salah satunya adalah Zainab Abu Haleeb, bayi perempuan berusia lima bulan yang meninggal karena kekurangan gizi di Rumah Sakit Nasser. “Tiga bulan di rumah sakit, dan inilah hasil akhirnya, anakku meninggal,” kata sang ibu, Israa Abu Haleeb, dengan suara pilu, sementara ayah Zainab menggendong jasad putrinya yang dibalut kain putih.
Menurut World Food Programme (WFP), satu dari tiga warga Gaza kini telah berhari-hari tidak makan, dan hampir 500.000 orang berada dalam kondisi menyerupai kelaparan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memperingatkan bahwa lebih dari 20 persen perempuan hamil dan menyusui kini mengalami malnutrisi.
Falestine Ahmed, seorang ibu di Gaza, bercerita kepada Al Jazeera bahwa berat badannya turun drastis. “Dulu saya 57 kg, sekarang tinggal 42 kg. Saya dan anak saya sama-sama didiagnosis malnutrisi berat. Makanan di rumah hampir tidak ada, dan saat ada pun, harganya terlalu mahal bagi kami,” ujarnya.
Bantuan Terbatas Israel telah mengizinkan jalur baru untuk masuknya bantuan, dan Uni Emirat Arab serta Yordania menjatuhkan pasokan dari udara. Namun, pengiriman bantuan seringkali berbahaya dan jauh dari cukup.
Jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud, melaporkan bahwa satu pengiriman bantuan justru menyebabkan 11 orang terluka setelah palet bantuan jatuh langsung di atas tenda pengungsi di dekat Jalan al-Rasheed.
Meski bukti kelaparan ekstrem kian nyata, pihak Israel tetap menyangkal adanya kelaparan di Gaza. Militer Israel mengklaim tengah meningkatkan akses kemanusiaan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya.
“Saya datang jauh-jauh, mempertaruhkan nyawa demi anak-anak saya. Mereka belum makan selama seminggu,” kata Smoud Wahdan, seorang ibu yang tengah mencari tepung. “Saya hanya ingin sepotong roti untuk anak-anakku,” lanjutnya.
Tahani, ibu pengungsi lainnya, mengatakan anaknya yang menderita kanker juga kelaparan. “Saya datang mencari makanan, mencari tepung untuk anak-anak. Saya harap para pemimpin dunia sadar dan melihat semua ini. Orang-orang ini sedang sekarat,” ucapnya.
Liz Allcock, kepala perlindungan di organisasi Medical Aid for Palestinians, menyatakan belum pernah melihat kondisi Gaza seburuk ini. “Jumlah orang yang kelaparan dan berjalan seperti tinggal kulit dan tulang sangat mengejutkan… Uang tak ada artinya di sini karena tidak ada barang yang bisa dibeli,” tandasnya.
Ia memperingatkan bahwa seperempat populasi Gaza kini berada dalam risiko malnutrisi akut. Menurut PBB, bantuan hanya bisa berhasil jika Israel mempercepat izin konvoi untuk melewati pos pemeriksaan.
Tom Fletcher, kepala bantuan PBB, mengakui ada sedikit pelonggaran izin, tetapi skala krisis menuntut aksi yang jauh lebih besar. “Ini memang kemajuan, tapi masih dibutuhkan bantuan dalam jumlah besar untuk mencegah bencana kelaparan dan krisis kesehatan,” bebernya.
Tekanan Diplomatik Meningkat
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan pada Minggu bahwa ia telah berdiskusi soal Gaza dengan para pemimpin Turki dan Mesir, dan berencana mengadakan konferensi bersama di New York pekan depan untuk mendorong solusi dua negara.
“Kita tidak bisa menerima bahwa orang-orang, termasuk anak-anak, meninggal karena kelaparan,” ujarnya. Macron juga menegaskan bahwa Prancis akan segera mengakui Negara Palestina, bergabung dengan lebih dari 140 negara anggota PBB.
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyebut blokade bantuan oleh Israel sebagai pelanggaran “kemanusiaan dan moralitas.” Ia menegaskan penghentian pengiriman makanan pada Maret oleh Israel sebagai pelanggaran hukum internasional. Namun, ia menambahkan bahwa Australia belum akan mengakui negara Palestina dalam waktu dekat.
Di Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan bahwa pembicaraan gencatan senjata yang dipimpin oleh utusan Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, menunjukkan “banyak kemajuan”. Setengah dari tawanan Israel yang tersisa kemungkinan akan segera dibebaskan.