Wakil Presiden AS JD Vance berbicara kepada anggota media sebelum menaiki Air Force Two di Pangkalan Udara Militer Emmen, Emmen, Swiss, Senin, 22 Juni 2026, setelah AS dan Iran mengadakan pembicaraan tingkat tinggi di KTT Danau Lucerne. (Foto: AP).
WASHINGTON, (ERAKINI) – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa kesepakatan sementara dengan tidak hanya membuka jalan menuju perdamaian, tetapi juga akan memberikan keuntungan besar bagi para petani Amerika. Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah oleh yang menegaskan tidak ada kewajiban membeli produk pertanian dari Amerika Serikat.
Melansir Arab News, perdebatan ini muncul setelah tercapainya kesepakatan sementara yang memungkinkan Iran kembali menjual minyaknya secara bebas selama 60 hari sambil melanjutkan perundingan terkait isu-isu strategis yang belum terselesaikan.
Kesepakatan itu juga membuka kembali akses pelayaran melalui Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia. Selain itu, nota kesepahaman tersebut menjanjikan pencairan sebagian aset Iran yang selama bertahun-tahun dibekukan akibat sanksi Amerika Serikat.
Meski demikian, kesepakatan tersebut menuai kritik dari berbagai pihak karena dianggap tidak menyentuh sejumlah alasan utama yang sebelumnya digunakan Trump untuk membenarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, termasuk program nuklirTeheran, pengembangan rudal balistik, dan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok militan di kawasan Timur Tengah.
Menanggapi kritik tersebut, Trump melalui platform Truth Social menyatakan bahwa dana Iran yang dicairkan akan ditempatkan dalam rekening penampungan yang berada di bawah pengawasan Amerika Serikat dan digunakan untuk membeli kebutuhan kemanusiaan dari petani Amerika.
“Dana itu akan digunakan untuk pembelian makanan dan perlengkapan medis, secara eksklusif dari Amerika Serikat, termasuk jagung, gandum, dan kedelai dari petani Amerika kita yang hebat. Ini adalah hal-hal yang sangat dibutuhkan oleh Iran,” tulis Trump.
Wakil Presiden AS, JD Vance, juga menyampaikan pandangan serupa. Ia menyebut dana dan aset Iran yang dibebaskan nantinya akan diarahkan untuk membeli hasil pertanian Amerika Serikat.
Namun pemerintah Iran dengan tegas menolak interpretasi tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan bahwa setiap keputusan pembelian akan didasarkan pada pertimbangan harga dan kualitas produk, bukan atas perintah Washington. “Menarik bahwa filosofi dan tujuan perang, yang merupakan penghancuran peradaban Iran dan runtuhnya Iran, telah menjadi memperkaya petani Amerika,” sindir Baghaei.
Penolakan yang lebih keras datang dari Duta Besar Iran untuk Jenewa, Ali Bahreini. Ia menegaskan bahwa penggunaan aset yang dicairkan sepenuhnya merupakan hak Iran. “Iran adalah satu-satunya negara yang memutuskan apa yang akan dilakukan dengan aset-aset tersebut,” tegasnya kepada wartawan.
Meski demikian, seorang pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya berupaya meredam perbedaan tersebut. Menurutnya, para pejabat Iran kemungkinan menyampaikan pernyataan yang disesuaikan dengan kebutuhan politik domestik mereka.
Di kalangan pengamat, mekanisme penggunaan dana Iran yang dibekukan juga masih menimbulkan banyak tanda tanya.
Peneliti emeritus dari International Food Policy Research Institute, Joseph Glauber, menilai Iran tidak mungkin secara tiba-tiba meninggalkan mitra dagang tradisionalnya hanya demi membeli produk pertanian dari Amerika Serikat.
Menurutnya, selama ini kebutuhan pangan Iran dipasok oleh sejumlah negara seperti Brasil, India, Turki, negara-negara Uni Eropa, Kanada, Australia, dan Argentina. Ia memperingatkan bahwa jika Washington memaksakan pembelian produk Amerika, langkah tersebut berpotensi menimbulkan ketegangan dengan negara-negara pemasok lainnya.
Di sisi lain, para ahli sanksi internasional juga mempertanyakan bagaimana mekanisme teknis pencairan aset Iran dapat diterapkan. Peneliti senior dari Center on Global Energy Policy, Richard Nephew, menjelaskan bahwa secara teori Amerika Serikat dapat mencoba mewajibkan dana tersebut hanya digunakan untuk membeli produk pertanian AS.
“Yang perlu Anda lakukan hanyalah memberi tahu bank asing bahwa mereka dapat memindahkan uang tersebut tetapi hanya ke bank AS untuk membeli kedelai atau apa pun,” ujarnya.
Namun ia menambahkan bahwa bank-bank asing tidak selalu harus mematuhi keinginan tersebut. Jika menolak, Amerika Serikat memang dapat menjatuhkan sanksi tambahan, tetapi langkah seperti itu jarang dilakukan. Menurut Nephew, pemerintah AS umumnya menghindari kesan bahwa isu keamanan nasional digunakan sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan ekonomi.
Perbedaan penafsiran antara Washington dan Teheran mengenai penggunaan aset yang dicairkan menunjukkan bahwa masih banyak aspek kesepakatan yang belum sepenuhnya jelas. Di tengah upaya melanjutkan negosiasi, pertanyaan mengenai siapa yang akan mengendalikan dana tersebut dan bagaimana dana itu digunakan berpotensi menjadi sumber perselisihan baru antara kedua negara.