Blokade ini merupakan operasi besar-besaran yang melibatkan lebih dari 10.000 pasukan AS, lebih dari selusin kapal perang, dan puluhan pesawat, menurut militer AS. (Foto: AFP).
WASHINGTON, (ERAKINI) - Situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas setelah kapal perang Amerika Serikat dilaporkan mencegat dua kapal tankerminyak yang berusaha meninggalkan Iran. Aksi ini terjadi hanya sehari setelah kebijakan yang diumumkan Presiden Donald Trump resmi diberlakukan.
Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kapal perusak tersebut menghubungi kedua tanker melalui radio saat mereka keluar dari pelabuhan Chabahar di Teluk Oman, lalu memerintahkan mereka untuk kembali. Belum diketahui apakah ada peringatan tambahan yang diberikan dalam proses tersebut.
Langkah ini menjadi bagian dari implementasi awal blokade yang bertujuan menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Kebijakan tersebut juga dikaitkan dengan upaya Washington memaksa Teheran menerima syarat-syarat untuk mengakhiri konflik yang melibatkan AS dan Israel sejak akhir Februari, termasuk pembukaan jalur pelayaran tersebut sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang masih rapuh.
Meski demikian, efektivitas blokade ini masih menjadi tanda tanya. Noam Raydan dari The Washington Institute for Near East Policy menyebutkan bahwa meskipun ada indikasi kapal tanker yang berbalik arah, banyak kapal pengangkut minyakIran justru “menghilang” dari sistem pelacakan. “Kita belum tahu seberapa efektifnya. Kita masih di hari kedua,” ujarnya.
Menurut pejabat AS tersebut, dua kapal tanker yang dicegat merupakan bagian dari enam kapal dagang yang sebelumnya telah diperintahkan oleh Komando Pusat AS untuk kembali ke pelabuhan Iran di Teluk Oman.
Pihak militer AS juga menegaskan bahwa sejak blokade diberlakukan pada Senin pagi waktu Washington, tidak ada kapal yang berhasil melewati pembatasan tersebut.
Operasi ini melibatkan lebih dari 10.000 personel militer, lebih dari selusin kapal perang, serta puluhan pesawat tempur. Meski demikian, AS menyatakan tetap menjamin kebebasan navigasi bagi kapal yang tidak terkait dengan Iran.
Kebijakan blokade ini diumumkan setelah gagalnya perundingan damai, yang sempat memicu lonjakan harga minyak global hingga menembus 100 dolar per barel, sebelum kembali turun karena harapan adanya negosiasi lanjutan.
Jika strategi ini berhasil, posisi tawar Iran dalam negosiasi diperkirakan akan melemah. Namun, para analis memperingatkan bahwa langkah ini berisiko tinggi dan dapat dianggap sebagai tindakan perang yang berpotensi memicu eskalasi baru.
Ancaman balasan dari Iran pun tidak bisa diabaikan. Selain kemungkinan serangan terhadap kapal, Teheran juga disebut dapat menargetkan negara-negara Teluk yang menjadi basis pasukan AS.
Dengan ribuan korban jiwa akibat konflik yang telah berlangsung, ketegangan ini kini memasuki fase krusial. “Kita berada dalam masa pengujian,” ujar Raydan, menandakan bahwa arah konflik ke depan masih penuh ketidakpastian.