Presiden Lebanon Joseph Aoun pada hari Jumat menuduh Israel menanggapi tawaran negosiasi dengan mengintensifkan serangan udara, yang terbaru menewaskan seorang pria yang mengendarai sepeda motor di Lebanon selatan. (Foto: Reuters).
BEIRUT, (ERAKINI) - Upaya diplomasiLebanon kembali ditanggapi dengan eskalasi kekerasan. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyesalkan sikap Israel yang disebutnya justru memperburuk situasi keamanan setelah Beirut menyampaikan kesiapan untuk membuka jalur demi mengakhiri pendudukan di wilayah selatan negara itu.
Menurut Aoun, Lebanon telah menunjukkan itikad baik untuk mencari solusi damai, namun “jalan dialog tidak mungkin terwujud jika pihak lain tidak memiliki komitmen yang sama.” Ia menegaskan bahwa alih-alih membuka ruang pembicaraan, Israel justru meningkatkan serangan udara.
Serangan terbaru menewaskan seorang pria yang sedang mengendarai sepeda motor di wilayah Kunin, Lebanon selatan. Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan bahwa drone Israel mengincar target sipil, menyebabkan satu korban tewas dan satu lagi luka-luka. Insiden itu terjadi hanya sehari setelah seorang pekerja kota gugur akibat serangan udara di desa Blida, dekat perbatasan.
Militer Israel mengklaim operasi tersebut menyasar anggota Hizbullah yang tengah memperbaiki infrastruktur kelompok itu. Namun, bagi Beirut, serangan-serangan tersebut adalah bentuk pelanggaran mencolok terhadap prinsip gencatan senjata yang telah disepakati pada akhir 2024 setelah konflik besar di Gaza.
Meski gencatan senjata telah berlangsung, Israel tetap mempertahankan kehadiran militernya di lima titik strategis di Lebanon selatan dan secara berkala melancarkan serangan. Aoun telah memerintahkan angkatan bersenjata Lebanon untuk merespons setiap pelanggaran yang membahayakan warga dan kedaulatan negara.
Pertempuran lintas batas kembali memanas sejak perang Gaza meletus pada Oktober 2023. Meskipun kesepakatan penghentian tembak-menembak berlaku sejak tahun lalu, Israel terus meluncurkan serangan di wilayah Lebanon, dengan intensitas yang meningkat beberapa hari terakhir.
Data otoritas kesehatan Lebanon menunjukkan setidaknya 25 warga tewas sepanjang Oktober, termasuk seorang warga Suriah. Kantor HAM PBB juga mencatat lebih dari 111 warga sipil Lebanon terbunuh sejak gencatan senjata diberlakukan.
Menteri Luar Negeri Lebanon, Youssef Raggi, meminta Jerman dan komunitas internasional untuk menekan Israel agar menghentikan tindakan militernya. “Perdamaian hanya bisa dicapai melalui jalur diplomatik, bukan kekuatan senjata,” tegasnya.
Raggi menambahkan bahwa pemerintah Lebanon terus melakukan reformasi keamanan, termasuk penataan senjata nasional secara bertahap. Namun, tekanan dari pemerintah Amerika Serikat yang mendorong pelucutan penuh Hizbullah menuai resistensi dari kelompok tersebut dan para pendukungnya, yang menilai langkah itu melemahkan posisi pertahanan Lebanon di tengah ancaman eksternal.