Di tengah gencatan senjata di Jalur Gaza yang belum tuntas, agresi Israel malah tidak berhenti. Serangan udara terbaru Israel menghancurkan sebuah desa di Lebanon selatan. Foto: AP via Al Jazeera
JAKARTA, (ERAKINI) - Di tengah gencatan senjata di Jalur Gaza yang belum tuntas, agresi Israel malah tidak berhenti. Serangan udara terbaru Israel menghancurkan sebuah desa di Lebanon selatan, Sabtu (11/10/2025).
Serangan ini dilaporkan menewaskan satu orang dan melukai tujuh lainnya, serta sempat memutus jalur utama yang menghubungkan Beirut dengan wilayah selatan negara itu. Serangan ini menjadi pelanggaran terbaru atas perjanjian yang ditandatangani Israel dan Hizbullah pada November 2024.
Dilansir Al Jazeera, serangan terjadi di Desa Msayleh pada Sabtu dini hari, menargetkan sebuah lokasi penjualan alat berat dan menghancurkan banyak kendaraan. Menurut laporan terjemahan resmi, serangkaian serangan udara Israel juga menghantam Wadi Al-Najariya dekat Al-Masailh di Lebanon selatan.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebutkan, seorang warga negara Suriah tewas dan tujuh orang lainnya terluka ketika sebuah truk pengangkut sayuran yang melintas terkena dampak ledakan.
Sementara itu, drone Israel dilaporkan terbang di atas ibu kota Beirut dan wilayah pinggiran selatan sejak Sabtu pagi, menurut kantor berita nasional Lebanon (NNA).
Serangan berkelanjutan di Lebanon ini terjadi saat gencatan senjata di Gaza memungkinkan ribuan warga Palestina kembali ke rumah mereka yang hancur. Sementara PBB menyiapkan rencana untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan vital ke seluruh wilayah yang porak-poranda itu.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai serangan terhadap infrastruktur sipil. “Sekali lagi, Lebanon selatan menjadi sasaran agresi terang-terangan Israel terhadap fasilitas sipil tanpa alasan atau dalih apa pun,” katanya.
Ia menambahkan, serangan ini sangat mengkhawatirkan karena terjadi setelah perjanjian gencatan senjata di Gaza. Militer Israel mengklaim serangan itu menargetkan peralatan yang digunakan untuk membangun kembali infrastruktur bagi Hizbullah. Israel beralasan operasi semacam ini perlu dilakukan untuk mencegah Hizbullah memulihkan kemampuan militernya.
Menurut Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Türk, sejak gencatan senjata berlaku, serangan Israel telah menewaskan 103 warga sipil di Lebanon. Pasukan Israel juga masih menempati sejumlah posisi di dalam wilayah Lebanon.
Insiden ini menjadi bagian dari pola serangan hampir setiap hari oleh Israel terhadap wilayah Lebanon sejak gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat diberlakukan. Beberapa hari sebelumnya, serangan drone Israel menewaskan dua orang yang diklaim sebagai anggota Hizbullah.
Pada Jumat, otoritas Lebanon mengumumkan berhasil menggagalkan rencana bom dan pembunuhan yang diduga dirancang Israel saat acara peringatan mantan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah, yang sebelumnya dibunuh oleh Israel. Beberapa tersangka telah ditangkap.
Hizbullah menolak tekanan internasional untuk melucuti senjata. Saat berbicara di makam Nasrallah, Sekretaris Jenderal Hizbullah saat ini, Naim Qassem, menegaskan kepada ribuan pendukung bahwa kelompoknya tidak akan pernah menyerahkan senjatanya.
Utusan khusus AS Tom Barrack mengatakan kepada Al Jazeera bulan lalu bahwa meyakinkan Hizbullah untuk melucuti senjata adalah tugas pemerintah Lebanon, meski ia mengakui status Hizbullah sebagai partai politik membuat situasi menjadi lebih rumit.
Pemerintah Lebanon, di bawah tekanan kuat dari AS dan Israel, telah menugaskan militer pada awal September untuk menyusun rencana perlucutan senjata Hizbullah.
Perang sebelumnya telah menewaskan sedikitnya 4.000 orang di Lebanon dan menyebabkan kerugian material sekitar USD11 miliar. Di pihak Israel, 127 orang tewas, termasuk 80 tentara.
Adapun perang ini meletus setelah Hizbullah meluncurkan roket ke Israel utara pada 8 Oktober 2023, sehari setelah serangan Hamas ke Israel selatan memicu perang di Gaza.