Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi (kiri) berbincang dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian (kanan) di Teheran, Iran, pada 21 Mei 2026. (Foto: IRNA).
DUBAI/WASHINGTON, (ERAKINI) – Pakistan meningkatkan manuver diplomatik guna menjaga kelangsungan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang kini berada di titik kritis. Upaya tersebut dilakukan ketika Teheran justru menunjukkan sikap yang semakin keras terkait program nuklirnya, sementara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman serangan apabila tidak memperoleh respons yang dianggap memuaskan dari .
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersama Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi telah membahas perkembangan geopolitik kawasan, termasuk peluang keberhasilan negosiasi antara Washington dan Teheran.
Meski gencatan senjata rapuh telah berlangsung selama enam pekan, proses diplomasi menuju perdamaian dinilai belum menunjukkan perkembangan berarti. Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia mulai menekan ekonomi global dan memicu kenaikan inflasi di berbagai negara.
Situasi tersebut juga menjadi tantangan politik bagi Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November mendatang. Popularitasnya dilaporkan menurun akibat tingginya harga bahan bakar yang memicu ketidakpuasan publik.
Di tengah situasi yang memanas, Kepala Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir disebut sedang mempertimbangkan kunjungan ke Teheran untuk menjalankan misi mediasi. Informasi itu diungkap tiga sumber yang mengetahui jalannya negosiasi kepada Reuters.
Salah satu sumber menyebut Pakistan tengah membangun komunikasi dengan berbagai pihak di Iran demi mempercepat penyampaian pesan antara Teheran dan Washington. “Ketidaksabaran Trump menjadi perhatian utama, sehingga proses komunikasi harus dipercepat,” ujar sumber tersebut.
Kantor berita ISNA juga melaporkan bahwa Munir dijadwalkan mengunjungi Teheran guna membahas rancangan kerangka kesepakatan serta langkah-langkah pembangunan kepercayaan antara kedua negara.
Namun di saat bersamaan, Iran justru mempertegas sikapnya mengenai uranium yang telah diperkaya hingga mendekati tingkat senjata nuklir. Dua sumber senior Iran menyatakan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei menginstruksikan agar cadangan uranium tersebut tidak dikirim ke luar negeri.
Pernyataan itu langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak hampir dua persen hingga menyentuh level 107 dolar AS per barel.
Trump sendiri menegaskan bahwa Washington siap mengambil langkah cepat apabila negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan. “Jika kami tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya bisa bergerak sangat cepat. Kami siap bertindak,” kata Trump kepada wartawan.
Ketika ditanya mengenai batas waktu menunggu respons Iran, Trump menjawab bahwa keputusan bisa diambil hanya dalam hitungan hari.
Sementara itu, Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa serangan baru terhadap negaranya dapat memicu perang regional yang lebih luas dan berpotensi melampaui kawasan Timur Tengah.
Iran juga kembali menyampaikan proposal terbaru kepada Amerika Serikat. Namun, isi proposal tersebut disebut masih memuat tuntutan lama yang sebelumnya ditolak Washington, termasuk kendali atas Selat Hormuz, pencabutan sanksi ekonomi, kompensasi perang, pembebasan aset Iran yang dibekukan, hingga penarikan pasukan AS dari kawasan.
Ketegangan semakin meningkat setelah Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan kembali klaim kedaulatan Iran atas Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut merupakan lintasan sekitar seperlima distribusi minyak dan gas dunia.
Menurut Gharibabadi, Iran memiliki hak mengambil langkah “praktis dan proporsional” demi menjaga keamanan maritim berdasarkan hukum internasional.
Penutupan efektif Selat Hormuz selama hampir tiga bulan telah memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan energi global. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut kondisi saat ini sebagai salah satu guncangan energi terburuk di dunia.
IEA memperingatkan pasar energi dunia berpotensi memasuki “zona merah” pada Juli dan Agustus akibat tingginya permintaan musim panas yang tidak diimbangi pasokan baru dari Timur Tengah.
Sebelum konflik pecah, sekitar 125 hingga 140 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Kini jumlah tersebut merosot drastis. Televisi pemerintah Iran melaporkan sekitar 30 kapal telah meminta izin melintas sejak Rabu malam. Kapal-kapal tersebut disebut sedang berkoordinasi dengan angkatan laut Iran untuk memperoleh akses melewati jalur strategis itu.
Iran menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz hanya akan diberikan kepada negara-negara yang dianggap bersahabat dan mematuhi syarat yang ditetapkan Teheran. Kebijakan tersebut berpotensi mencakup biaya akses, sesuatu yang langsung ditolak Washington.
Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan tujuan utama tekanan terhadap Iran adalah menghentikan dukungan Teheran terhadap kelompok milisi di kawasan, membatasi program nuklir, menghancurkan kemampuan rudal, serta melemahkan kekuasaan rezim Iran.
Meski demikian, Iran hingga kini masih mempertahankan persediaan uranium yang diperkaya mendekati level senjata nuklir. Selain itu, kemampuan militernya melalui rudal, drone, dan jaringan milisi proksi dinilai tetap menjadi ancaman serius bagi negara-negara di kawasan. Iran juga disebut-sebut mulai kembali memproduksi sejumlah drone selama masa gencatan senjata berlangsung, berdasarkan informasi dari dua sumber intelijen Amerika Serikat.