Negosiasi ke Tahap Serius, Trump Tunda Serangan Besar ke Iran di Detik-detik Terakhir
Akhmad Baihaqi Arsyad
WASHINGTON, (ERAKINI) – Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya menunda rencana serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran yang semula dijadwalkan berlangsung pada Selasa waktu setempat. Keputusan itu diambil karena proses negosiasi antara kedua pihak disebut memasuki tahap serius.
Pengumuman tersebut disampaikan Trump melalui media sosial pada Senin, hanya beberapa hari setelah ia melontarkan ancaman keras kepada Iran. Sebelumnya, Trump memperingatkan bahwa kesempatan Teheran untuk mencapai kesepakatan semakin menipis dan konflik bersenjata bisa kembali pecah kapan saja.
Meski begitu, nada pernyataannya berubah ketika berbicara kepada wartawan. Trump menyebut peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka lebar. “Sepertinya ada peluang yang sangat baik untuk mencapai kesepakatan. Jika itu bisa dilakukan tanpa harus menghancurkan mereka lewat pemboman besar-besaran, tentu saya akan sangat senang,” ujar Trump.
Presiden AS itu juga mengungkapkan bahwa dirinya telah memerintahkan militer Amerika untuk tetap bersiaga penuh menghadapi kemungkinan operasi besar terhadap Iran apabila perundingan gagal mencapai hasil yang dianggap memuaskan.
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump memang terus meningkatkan tekanan terhadap Iran. Ia berulang kali memperingatkan bahwa gencatan senjata yang disepakati pada pertengahan April berada dalam kondisi rapuh dan dapat runtuh sewaktu-waktu.
Bahkan akhir pekan lalu, Trump kembali melontarkan ultimatum keras kepada Teheran. “Waktu terus berjalan bagi Iran. Mereka harus bergerak cepat atau tidak akan ada yang tersisa,” tegasnya.
Menurut Trump, keputusan menunda serangan juga dipengaruhi permintaan sejumlah sekutu utama AS di Timur Tengah, termasuk para pemimpin Qatar, Saudi Arabia, dan United Arab Emirates. Situasi semakin rumit setelah Trump diketahui melakukan komunikasi intensif dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu serta Presiden Xi Jinping terkait perkembangan konflik Iran.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyebut fokus utama pembicaraan antara Washington dan Teheran saat ini adalah menjaga stabilitas Selat Hormuz agar tetap terbuka bagi jalur perdagangan energi dunia.
Fidan juga menjelaskan bahwa program nuklir Iran masih menjadi isu paling sensitif dalam negosiasi tersebut. Menurutnya, sebagian besar uranium Iran yang diduga berpotensi digunakan untuk pengembangan senjata nuklir kini terkubur di bawah reruntuhan terowongan akibat serangan gabungan AS dan Israel pada Juni lalu.
Meski demikian, ia menilai situasi saat ini belum berada pada level ancaman yang benar-benar berbahaya. “Tidak ada ancaman nyata untuk saat ini. Namun kondisi itu hanya bisa bertahan jika negosiasi nuklir berhasil diselesaikan,” kata Fidan dalam konferensi pers di Berlin.
Iran sendiri terus menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai. Teheran disebut telah menawarkan sejumlah kompromi dalam proposal terbaru guna mengakhiri konflik, tetapi Trump justru menolaknya dan menyebut proposal tersebut sebagai “sampah”.
Di tengah ketegangan geopolitik tersebut, pasar energi global langsung bereaksi. Harga minyak mentah Amerika Serikat tercatat turun lebih dari 2 persen pada perdagangan awal Asia, Selasa pagi.
Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun sebesar 2,02 persen menjadi 102,34 dolar AS per barel. Sementara kontrak bulan berikutnya melemah 1,42 persen ke level 107,12 dolar AS per barel setelah sebelumnya sempat melonjak lebih dari 3 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.


















