Kapal dan perahu di Selat Hormuz, Musandam, Oman, 22 April 2026. (Foto: Reuters).
SINGAPURA, (ERAKINI) — Dua kapal tanker asal Tiongkok yang mengangkut jutaan barel minyak mentah dilaporkan keluar dari Selat Hormuz pada Rabu, berdasarkan data pelayaran internasional. Pergerakan ini memicu optimisme pasar bahwa ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi segera mereda setelah muncul sinyal positif dari Washington.
Presiden Amerika Serikat, , menyampaikan bahwa konflik diyakini dapat berakhir dalam waktu singkat. Pernyataan itu diperkuat oleh Wakil Presiden JD Vance yang mengungkap adanya perkembangan signifikan dalam pembicaraan dengan Teheran terkait upaya penghentian perang.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Vance menilai posisi Amerika Serikat saat ini cukup menguntungkan dalam proses diplomasi tersebut. Sementara itu, Trump mengaku sempat berada di ambang keputusan untuk kembali melanjutkan operasi militer sebelum Iran mengajukan proposal baru guna menghentikan eskalasi konflik.
Trump juga menyebut para petinggi Iran mulai mendesak tercapainya kesepakatan damai. Ia memperingatkan bahwa apabila negosiasi gagal menghasilkan titik temu, serangan militer Amerika Serikat dapat kembali dilakukan dalam beberapa hari ke depan.
Selama hampir tiga bulan terakhir, Washington terus berupaya mengakhiri perang yang pecah bersama Israel melawan Iran. Sepanjang konflik berlangsung, Trump berkali-kali mengeklaim bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai sangat terbuka, namun di sisi lain ia tetap melontarkan ancaman serangan besar apabila Teheran menolak tuntutan Amerika.
Di dalam negeri, tekanan politik terhadap Trump semakin besar. Pemerintah AS dituntut segera membuka kembali jalur Selat Hormuz yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia. Lonjakan harga bahan bakar serta menurunnya tingkat kepuasan publik menjelang pemilu kongres November turut memperberat posisi politik sang presiden.
Konflik berkepanjangan tersebut menyebabkan gangguan energi global terbesar dalam beberapa dekade. Ratusan kapal tanker tertahan di kawasan Teluk, sementara infrastruktur energi dan jalur pelayaran mengalami kerusakan serius akibat serangan yang terus berlangsung.
Data dari LSEG dan Kpler menunjukkan dua kapal tanker super asal Tiongkok yang membawa minyak mentah Irak berhasil melintasi Selat Hormuz dengan total muatan sekitar empat juta barel minyak. Pergerakan itu dianggap sebagai sinyal awal meredanya ketegangan di kawasan.
Pasar minyak dunia pun merespons positif perkembangan tersebut. Harga minyak mentah Brent sempat turun hingga menyentuh US$110,16 per barel sebelum akhirnya kembali menguat sebagian.
Analis Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa, menyebut para investor kini terus memantau apakah Washington dan Teheran benar-benar mampu menemukan jalan damai di tengah perubahan sikap Amerika Serikat yang dinilai sangat dinamis dari hari ke hari.
Dalam keterangannya kepada media, Vance mengakui bahwa proses negosiasi berjalan sulit karena struktur kepemimpinan Iran dinilai tidak sepenuhnya solid. Menurutnya, posisi resmi tim negosiasi Teheran kerap berubah sehingga Amerika Serikat berusaha memperjelas batas-batas tuntutannya sendiri.
Ia juga menegaskan bahwa salah satu fokus utama kebijakan luar negeri Trump adalah mencegah meluasnya perlombaan senjata nuklir di kawasan Timur Tengah.
Di pihak lain, Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menyatakan penundaan serangan AS terjadi karena Washington menyadari bahwa setiap aksi terhadap Iran akan dibalas dengan respons militer yang tegas.
Media pemerintah Iran melaporkan proposal perdamaian terbaru dari Teheran mencakup penghentian konflik di seluruh kawasan, termasuk Lebanon, penarikan pasukan AS dari wilayah sekitar Iran, hingga tuntutan kompensasi atas kerusakan akibat serangan gabungan Amerika dan Israel.
Selain itu, Iran juga meminta pencabutan sanksi ekonomi, pembebasan aset negara yang dibekukan, serta penghentian blokade maritim Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, sebagaimana dikutip kantor berita IRNA.
Meski demikian, isi proposal terbaru Iran dinilai tidak jauh berbeda dari tawaran sebelumnya yang pernah ditolak Trump dan disebutnya sebagai “omong kosong”.
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel sebelumnya dilaporkan menewaskan ribuan warga Iran sebelum akhirnya dihentikan melalui gencatan senjata pada awal April. Di Lebanon, operasi militer Israel dalam memburu kelompok Hizbullah yang didukung Iran juga menyebabkan ribuan korban jiwa dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi.
Serangan balasan Iran ke wilayah Israel dan sejumlah negara Teluk turut menimbulkan korban jiwa.
Walau gencatan senjata sejauh ini masih bertahan, ketegangan belum benar-benar reda. Dalam beberapa waktu terakhir, drone dilaporkan diluncurkan dari Irak menuju sejumlah negara Teluk seperti Arab Saudi dan Kuwait, yang diduga melibatkan Iran beserta kelompok sekutunya.
Trump bersama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan tujuan perang adalah melemahkan dukungan Iran terhadap kelompok milisi di kawasan, menghancurkan program nuklir Teheran, serta melumpuhkan kemampuan rudal dan drone negara tersebut.
Namun hingga kini, operasi militer itu dinilai belum mampu menghentikan sepenuhnya cadangan uranium Iran yang telah diperkaya mendekati level senjata nuklir maupun menghilangkan ancaman rudal dan jaringan milisi proksi yang dimiliki Teheran.
Di tengah tekanan besar dari luar negeri dan gelombang protes domestik yang sempat mengguncang awal tahun ini, pemerintahan ulama Republik Islam Iran justru mampu bertahan tanpa muncul tanda-tanda perlawanan terorganisasi yang signifikan.